KARENA SEBUAH SIKAT GIGI, SAYA BISA BERSANDING DI PELAMINAN DENGAN KEKASIH SAHABATKU.

0
89
views

Culas
Oleh
Ilyas Ibrahim Husain
Karena sebuah sikat gigi, saya bisa bersanding di pelaminan dengan kekasih sahabatku.
***

Di pelaminan ini nampak jelas kutangkap sorotan mata Feri yang menyiratkan rasa sakit yang luar biasa, sejenak dipandangiku, kemudian matanya mengedar ke arah Fitri. Sejurus kemudian pandangannya menuding ke arah Susanto—Ayah dari—Fitri, yang tak lain adalah mertuaku.
Wajar sorotan mata Feri seperti menikam hati kami satu persatu, betapa tidak Feri seperti ditimpa musibah bertubi-tubi. Pertama jalinan kasih dengan Fitri kandas. Kedua tentu saja, saya yang sahabatnya ini berhasil menikahi Fitri, maka nampaklah dalam benakku bahwa Feri menuding diriku menikungnya. Ketiga yang membuat hati Feri remuk redam ialah fakta berdasarkan amplop cokelat—yang berisi hasil tes DNA—menunjukkan bahwa; Feri adalah anak dari Sutanto. Ayah Fitri! Berarti, Feri dan kekasihnya Fitri. Bersaudara! Saudara satu ayah, berdasar pada amplop cokelat tersebut.
Nampaknya kemalangan tidak berhenti sampai di situ. Sepekan setelah putusnya Feri dan Fitri karena fakta bahwa ia bersaudara. Amalia, ibunda Feri menghadap ke Ilahi, tanpa sempat menceritakan satu kebenaran hubungan antara Sutanto dan Amalia.
Kini pandanganku beralih ke arah mertuaku, Sutanto. Sejenak mata pria yang menapaki usia setengah abad itu menyiratkan sebuah perasaan bersalah. Roman wajahnya menampakkan kegelisahan luar biasa, bukan karena tatapan yang menohok dari Feri, melainkan fakta yang harus ia sembunyikan kepada ibu mertuaku, sebuah fakta tentang hubungan rumit antara Feri, Fitri dan Sutanto. Tentunya saya juga ikut bagian dalam menyimpan rapat-rapat rahasia ini.
Alunan musik jazz yang mengiringi resepsi pernikahan malam ini, membawa ingatanku pada kejadian beberapa masa lalu. Kejadian ketika Sutanto—ayah mertuaku—meminta untuk mengadakan tes DNA secara diam-diam terhadap Feri, sahabatku sendiri.

***

Saat itu di koridor rumah sakit, Sutanto mengirimkan pesan singkat, saya masih menyempatkan membaca pesan tersebut, sesaat sebelum mengautopsi mayat. Maklum saja, saya seorang dokter forensik.
Mataku yang berbingkai menatap layar ponsel pintarku, pesan dari Sutanto—ayah Fitri yang berkebetulan sahabat ayahku—kubaca begitu seksama, kurang lebih isinya memintaku melakukan tes DNA. Tentu saja saya tak menolak, sedetik kemudian kubalas pesan singkat tersebut. Kemudian kulanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda, melangkahkan kaki menuju ruang operasi, dan tentunya ponsel pintarku kutitip pada petugas rumah sakit.
Dua hari setelah autopsi mayat tersebut, kubergegas menuju Mamuju, menempuh pesisir barat pantai Sulawesi Selatan. Tidak butuh lama menuju kediaman Sutanto, setelah melewati batas propinsi di Pinrang dan menyusuri Polewali Mandar, kemudian berkelok menuju Kota Mamuju, ibukota Propinsi Sulawesi Barat.
Setiba di rumah Sutanto, diriku mendapati Feri dan Fitri bersanding mesra menikmati terpaan rembulan di malam hari, dari balik kemudi mobil kuperhatikan seksama roman wajah dua insan yang dimabuk asmara. Ada sedikit rasa kesal pada Feri, maklum saja walaupun saya bersahabat dengan dia sejak kecil, Feri telah berhasil menambatkan asmara di hati Fitri. Gadis turunan Jawa-Mandar yang telah mencuri hatiku, jauh sebelum Feri mengenalnya.
Kubunyikan klakson, bermaksud memberikan sinyal kepada si empuhnya rumah, Sutanto untuk sesegera mungkin menyadari kehadiranku. Di sisi lain, saya juga mencoba mengganggu kemesraan Feri dan Fitri. Sekali lempar batu, dua merpati terkapar.
Tidak butuh lama, Sutanto untuk menghampiriku yang masih di dalam mobil, ia mengetuk-ngetuk pintu kaca depan, kuturunkan kaca lalu mendongakkan kepala. Sekilas siluet yang menerpa Sutanto—Ayah Fitri—menampakkan bayangan penuh kekhawatiran. Hal itu nampak jelas di mata yang telah termakan usia itu, walaupun demikian mata Sutanto masih tajam, sama sewaktu ia menatapku digendongan ayah, ketika Sutanto bersua dengan mendianng ayahku.
“Nak Amran, silahkan ke rumah, saya sudah lama menunggu.” Dengan penuh keramahan Sutanto berujar demikian, lantas kuumbarkan senyuman kepada pria yang mulai menapaki usia lima dasawarsa.
Setelah mantap kaki jenjangku menghujam bumi, kuraih jemari rapuh Sutanto, namun masih menggenggam dengan kuat. Lantas sebagaimana orang timur pada umumnya kudaratkan ciuman ke punggung tangannya. Sutanto kemudian merangkulku, berjalan menuju rumah panggung khas Mandar. Di perjalanan itu, sejenak mataku beradu dengan sepasang bola mata Feri yang mengeker ke arahku, kekeran penuh tanda tanya.
Di dalam bilik kamar tamu, Sutanto mengajakku bercerita, kebanyakan isinya hanya keluh kesah, terutama kekhawatiran pada hubungan antara Feri dan Fitri, kemudian Sutanto mulai menceritakan sebuah rahasia kepadaku.
“Nak Arman, saya harap kamu bisa menjaga rahasia ini…” Sutanto memutus pembicaraan, kemudian menyerahkan sebuah foto bewarna sepia, di dalam foto itu terdapat wajah Sutanto dan wajah seorang perempuan yang cukup familiar. Perempuan itu menggandeng mesra Sutanto sedangkan perut perempuan itu cukup gemuk, bukan lantaran di perutnya ada timbunan lemak, tetapi perempuan itu sedang berbadan dua.
“Nak Arman, sebenarnya perempuan di dalam foto ini adalah isteriku.” Sontak pengakuan Sutanto membuatku tercengang, bagaimana bisa perempuan di dalam foto itu istri Sutanto? Padahal selama ini baik ayah dan ibuku menjalin persahabatan dengan Sutanto dan isterinya.
“Paman jangan bercanda deh, perempuan ini kan bukan ibunda Fitri, lantas siapa gerangan perempuan ini?! kenapa Paman mengatakan bahwa perempuan ini isteri Paman?” pertanyaanku memberondong Sutanto. Kulihat ia hanya mendesah pelan. Dengan suara riuh rendah diceritakannya semua, semua dosa-dosanya. Mulai dari pernikahan sirinya, hingga perbuatannya meninggalkan perempuan itu, perempuan yang berbadan dua yang katanya telah mengandung anaknya.
Kupandangi seksama wajah perempuan dalam foto itu, sekilas mengingakanku akan seseorang. “Bukankah, ini Ibu Amalia? Ibunda dari Feri?” kembali mulutku memberondong dua pertanyaan dalam satu kalimat pada Sutanto. Sutanto hanya mengangguk, dan sekali lagi saya tercengang. Maka pantaslah saya dipanggil dari Kota Makassar menuju Mamuju. Di bilik kamar tamu, saya meminta kepada Sutanto untuk menyiapkan sampel untuk bahan DNA. Sebuah sampel air liur dari bekas sikat gigi. Menurutku sampel yang satu ini cukup mudah didapatkan tinimbang meminta sampel darah mereka. Malam itu kuputuskan untuk menginap, dan hujan deras pun turun membasahi bumi.

***

Kini pandanganku jatuh pada istriku dan Feri, sejenak masih ada kilatan cahaya di mata sahabatku itu. Saya maklum akan ikhwal tersebut, ia masih tak percaya atas fakta yang kuberikan kepadanya, fakta bahwa Feri dan Fitri saudara satu ayah. Kembali, alunan musik jazz membawa ingatanku ke sana.
Masih terbayang dalam ingatan, ketika Feri menyambangiku di rumah sakit, ia membanting keras amplop cokelat yang dipegangnya.
“Ini salah, ini pasti salah! Saya tak percaya bahwa Fitri meninggalkanku karena amplop cokelat ini, amplop yang berisi kabar bahwa hasil lab menunjukkan diriku dan Ayah Fitri identik sebagai anak dan bapak.” Saya beranjak dari kursiku dan menenangkannya, menjelaskan kesemuanya, menjelaskan bahwa hasil DNA tigkat kesalahannya satu berbanding sejuta.
“Ini pasti bohong! Dan sejak kapan kamu mengambil sampel DNA dariku?!” Raut wajah Feri semakin memerah, kembali kujelaskan kesemuanya mengenai peristiwa pagi hari di kediaman Sutanto beberapa waktu lalu. Seperti yang diceritakan Sutanto kepadaku, sebelum Feri mandi, Sutanto menyerahkan sebuah odol dan sikat gigi untuk digunakan dalam keperluan mandi. Seusai itu, Sutanto kemudian menyerahkan sikat gigi itu, kutaruh sikat gigi tersebut ke dalam kantong plastik dan memberikan label nama Feri, sama halnya sampel DNA berupa sikat gigi Fitri dan Sutanto. Kujelaskan sesederhana mungkin proses pemindaian dan pencocokan sampel DNA mereka dan tentunya hasilnya positif. Sutanto dan Feri dipastikan adalah ayah dan anak. Feri mendengus kesal mendengarkan penjelasanku, ia keluar kemudian membating pintu. Saya cuma tersenyum sinis melihat tindak-tanduknya.

***

Alunan musik jazz membuyarkan ingatanku, sejenak kulirik Fitri yang bersanding di sampingku, ia mengumbar senyuman kepada para tamu undangan. Di sorot matanya masih menampakkan penyesalan luar biasa dan ketidakpercayaan begitu mendalam atas semua yang menimpa dirinya.
Kehadiranku dalam hidup Fitri adalah sebuah rencana yang teramat matang. Amplop cokelat hasil lab kuberikan kepada Sutanto, ia membaca seksama hasil tersebut dan tentunya kaget bukan kepalang. Tidak butuh lama bagi Sutanto menyampaikan hasil tersebut kepada anaknya. Lamaran yang pernah diajukan Feri kepada Sutanto gugur dengan sendirinya, Fitri harus memutuskan tali asmara dengan Feri. Fitri begitu gamang, gundah gulana dan bingung atas semua yang telah terjadi. Di dalam kegamangan itu perlahan-lahan saya hadir mencoba mengusir Feri dalam relung hati Fitri, sedikit demi sedikit, hingga akhirnya saya bisa bersanding dengannya. Hinggs tepat malam ini, saya telah resmi menjadi suami dari Fitri. Gadis yang telah lama mencuri hatiku, jauh sebelum kedatangan Feri.

***

Pandanganku jatuh pada Fitri yang telah tertidur pulas di ranjang. Bagaimanapun perempuan itu sudah halal bagiku. Tapi, saya tak menyentuhnya. Masih nampak jelas di sorotan matanya sewaktu resepsi pernikahan, bahwa; di salah satu sudut relung hatinya, masih terpahat nama Feri, dan bagiku waktu akan melenyapkan pahatan tersebut.
Pandanganku kini kuedarkan dan jatuh pada sebuah amplop cokelat, amplop yang menyibak misteri sesungguhnya. Sejenak ingatanku melayang pada saat menguji sampel DNA—dari sikat gigi Fitri dan Sutanto—yang menunjukkan hasil postif; mereka berdua anak dan ayah. Namun yang membuatku tercengang ketika menguju hasil DNA dari sikat gigi Feri dan Susanto. Hasil DNA yang selama ini kusembunyikan.
Kulangkahkan kakiku menuju taman belakang rumah, tanganku pun masih memegang amplop cokelat itu. Sejurus kemudian tanganku menggali lubang sedalam setengah meter. Kubuka amplop itu lalu seksama membacanya, Kunyalakan pemantik, membakar kertas itu, lalu menguburnya. Mengubur kebenaran, pada sebuah barisan dawat yang terbakar—berisi iinformasi bahwa; Feri bukanlah anak dari Ayah Fitri. Yah, saya memanipulasi hasil lab.
Tamalate – Tompobalang. 8 Oktober 2016.

 

Biodata Penulis :
Ilyas Ibrahim Husain, sesungguhnya hanyalah nama pena. Lahir pada 06 April 1993 di Sungguminasa, Kabupaten Gowa.
Menamatkan sekolahnya sejak SD hingga SMK di kota kelahirannya. Kemudian takdir membawanya meraih gelar Sarjana Pendidikan di Universitas Negeri Makassar, aktif menjadi mahasiswa Pendidikan Sejarah sejak 5 September 2011 – 6 April 2016. Untuk mengenal lebih jauh mengenai penulis dapat menjalin komunikasi melalui media sosial Twitter: @adilbabeakbar, Facebook: Ilyas Ibrahim Husain, Instagram: adilakbarilyasibrahimhusain, ataupun melalui surat elektronik, dengan alamat surel: adilakbarilyasibrahimhusain@yahoo.co.id. Dapat juga di hubungi melalui nomor HP. 085298443202.