RESTORASI MISI GERAKAN PEREMPUAN DAN CATATAN BELUM USAI

0
79
views

Dewasa ini Negara dalam kapasitasnya sebagai pemberi ruang gerak dalam aneka regulasi dinilai penting dalam memberdayakan perempuan. Namun, dalam hal ini sangat kontradiksi terhadap realitas yang terjadi. Atmosfir dilematis terhadap kaum perempuan sangat mendominasi dirasakan, sebab dinilai hal ini dapat menjadi pedang bermata dua bagi tiap sisi yang berbeda. Dalam histori kebijakan Negara, Perempuan khalayaknya dinilai sebagai ayal-ayal kamuflase gender saja yang termanfaatkan demi kepentingan pencitraan suatu kelompok elit politik tertentu. Tidak heran jika gerakan perempuan pun sangat menjadi kompleks problematikanya.

Negara dalam sikapnya menyetujui dan menjaminkan hak-hak perempuan dapat dikatakan belum mampu menjadi garis tengah pemersatu belbagai elemen-elemen gerakan perempuan. Dibuktikan bahwa, adanya regulasi hukum terkait penjaminan tersebut tidak menggaransikan bahwa  kemerosotan pergerakan perempuan tidak akan terjadi atau “stagnan”, atau jalan ditempat pada wilayah konsep saja. Padahal, pada implementasi dan output pencapaiannya sangat diharapkan dalam menegakkan keadilan gender.

Fragmentasi antar gerakan perempuan sebenarnya telah menjadi gen kasuistik yang tengah terjadi dikalangan peregerakan-pergerakan perempuan. Hal ini digambarkan, sejarah mencatat dunia pergerakan perempuan pasca rezim sudah memulai project disorientasi dan termanfaatkan oleh kelompok-kelompok kekuasaan, sehingga tak terhindarkan isu dan strategi antar gerakan perempuan tidak pernah solid dan terdikotomi oleh konsep-konsep pergerakannya.

Pada titik terangnya, melihat problema tersebut, peempuan sangat ditekankan untuk mengupayakan restorasi visi dan misinya sehingga hal tersebut dapat mengembalikan perempuan-perempuan dan kematangan pengetahuan dalam bergerak dikembalikan pada kiprah sesungguhnya.

Pada Convening for Change: From Reflection to Movement yang diselenggarajan Rifka Annisa bekerja sama dengan Global Fundn for Woman selama 3 hari di Yogyakarta, menghasilkan memorandum penting yang memunculkan kiat-kiat solusi dari hambatan-hambatan dan disorientasi gerakan perempuan hari ini. Dilangsir dalam artikel “rifka-annisa.org” menyebutkan bahwa, kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah NGO/LSM Perempuan yang tersebar di Indonesia.

Gerakan perempuan tak dapat dinafikkan tidak terlpeas dari dinamika naik turun bahkan dibumi hanguskan. Olehnya, sejak Kongres Perempuan I tahun 1928 dan pada tahun 1990-an menghasilkan sejumlah modifikasi solusi sebagai rekam jejak pengalaman dan bangunan pengetahuan banyak berubah. Baik dalam segi isu, strategi, dan orientasi gerakannya. Namun, dilain sisi hal ini pun menjadi pemantik problem baru bagi gerakan perempuan yang semakin kompleks permasalahannya, Karena dinilai dari keberagaman tersebut akan menciptakan kelompok-kelompok  yang tidak solid dan sangat tidak menyentuh adaptasi baru selain hanya mengurusi persoalan perbaikan internal saja dan lagi-lagi hanya sebatas kematangan konsep-konsep feminis tanpa implementasi.

Selanjutnya, persoalan lain yang tidak kalah menarik dalam catatan tak usainya problem perempuan yaitu hambatan regenerasi ide bagi penerus-penerus akan datang. Hal ini juga sangat perlu diperhatikan dan ditindaklanjuti oleh kaum-kaum pergerakan perempuan, karena visi dan misi yang terencana harus memiliki sifat berkepanjangan agar tidak menimbulkan kemerosotan yang pesat hingga menenggalamkan sejarah dan peradaban yang telah ditoreh oleh pejuang-pejuang kaum pergerakan perempuan yang menyuarakan banyak abdomen keadilan. Energi-energi ide peretas harus lebih peka terhadap zaman, demi menunjang pergerakan perempuan yang lebih kreatif formulasi strategi, dalam mencapai output yang diharapkan. Baik dalam penegakannya dilingkungan keluarga maupun sosial pendidikan, politik dan ekonomi.

Begitu pula halnya, dalam menghindari singgungan kekuasaan, gerakan perempuan pun harus terlepas dari sifat-sifat yang menggantung pada donor. Independensi yang massive dan gesit responsife harus lebih ditanamkan agar terhindar dari kondisi-kondisi yang membawa arus platform pergerakan tidak tercederai oleh kepentingan-kepentingan politik diktator. Elemen-elemen yang terangkup dalam pergerakan harus lebih kreatif ekonomi dalam menyediakan dana independent dalam menghidupi roda organisasi pergerakan. Selain terawat dan terjaga, bisa dipastikan bahwa pencapaian yang terencana akan terhindar dari tekanan negosiasi komunikasi sehingga memperlancar metode yang terlaksana.

Mencari persoalan dan jalan keluar dari carut-marut gerakan perempuan dan perempuan pada umumnya bukanlah perkara mudah. Tiap gerakan perempuan memiliki identitas masing-masing yang melekat ide solutif dalam menyelesaikan persoalan perempuan dalam belbagai pertimbangan sudut pandang. Dan keberagaman itu wajar terjadi dan mengakibatkan orientasi gerakannya pun berubah-ubah.

Disty sebagai delegasi Indonesia khususnya pegiat komunitas isu gender yang dilangsir dalam artikel yifosindonesia.org tercatat dalam kunjungan Globalchangemaker Youth Summit diprakarsai oleh British Council, yang terdiri dari 120 Negara dan 50.000 anak muda tersebut banyak menunjukkan pencapaian dalam memberbaiki keberadaaan gerakan-gerakan perempuan. Salah satu kesadaran yang ditanamkan di sebagian besar aneka gerakan perempuan yaitu bagaimana mematangkan “Bangunan Pengetahuan” dan hal itu sangat terapresiasi dan dinilai dapat mengurai sedikit demi sedikit problem yang ada.

Hal itu juga ditekankan bahwa tidak sebatas bangunan pengetahuan. Namun harus didukung oleh rekaman jejak pengalaman yang akan menjadi tumpuan pemersatu berbagai sendi pergerakan perempuan dalam beraneka isu dan strategi yang banyak timbul.

Tiap-tiap gerakan dan perubahan yang ditoreh sedari dini harus terangkup rapi terdokumentasi, Karena hal itu dapat menjadi penyokong kekuatan, jika singgungan kekuasaan, hingga fundamental terjadi. Karena diakui juga bahwa, salah satu tenggelamnya dan tidak terkawalnya kekuatan gerakan perempuan juga karena minus data sebagai penguat.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan yang menjadi semerawut benang masalah perempuan hari ini, perlu kita sadari bahwa kita sebagai perempuan dan juga gerakan perempuan memiliki titik yang sama yakni memiliki rekam pengalaman yang sama sebagai perempuan dalam memperjuangkan hak-hak yang menjadi penjaminan Negara. Dan summit ini menjadi titik tolak pemersatu dari berbagai heterogenitas yang ada di dunia pergerakan perempuan. Tetap berusaha menuju perubahan, dimulai dari hal biasa hingga menjadi luar biasa. Sebuah proses tidak akan pernah mengkhianati usaha. Selamat Hari Perempuan Se-Dunia!.

 

PENULIS

Nama : Rahmi Chaer

Tempat/tgl lahir : 1 Januari 1997

Status : Mahasiswa/ Aktivis Perempuan