Reformasi Karakter Pemuda Pemudi Desa yang Krusial Melalui Remaja Mesjid untuk Penerapan Islam Kontemporer

0
109
views

Garsi-tengah.com – ,”Berikan aku 10 pemuda maka akan aku pindahkan gunung Semeru” kalimat tersebut dikutip dari pidato berkobar-kobar dari seorang proklamator Indonesia yang setiap kata yang beliau ucapkan mengandung arti besarnya peran strategis pemuda dalam setiap momentum membangun bangsa. Pernyataan dari Sang Proklamator tentang pemuda bukan hanya pemuda yang sekedar memiliki usia yang muda namun lebih daripada pemuda yang memiliki impian dan kepedulian yang besar terhadap bangsanya dan juga punya tekad yang kuat dalam mewujudkan mimpi yang dimiliki. Bukan pemuda yang hanya mengeluhkan segelintir masalah pribadinya yang menyebabkan seolah-olah tidak mau tahu dengan problematika yang dihadapi bangsanya dan membuatnya menjadi apatis dan individualis. Bekal kemajuan suatu bangsa idealnya adalah pemuda yang berkarakter dan peka akan fungsinya sebagai agen perubahan, kekuatan moral dan control social, dan  beberapa aspek tersebut yang saling berkaitan.

Karakter pemuda Indonesia di era globalisasi ini faktanya telah mengalami degradasi moral atau lebih sering disebut kenakalan remaja akibat pengaruh negative perkembangan teknologi yang berkaitan erat dengan dunia barat yang tidak dapat ditangkis. Pengaruh negative tersebut juga sudah merambah sampai ke pelosok NKRI yaitu sampai ke desa-desa. Seperti yang kita ketahui, pemuda desa yang dulu identic dengan kesopanan, keramahan, peduli, dan tekun namun ketika teknologi sudah mulai menjajah ke daerah-daerah, dalam waktu yang singkat menggilas karakter-karakter baik yang dimiliki oleh pemuda desa tersebut. Contoh kecilnya yaitu mulai beredarnya minuman keras di kalangan pemuda desa, cara perpakaian yang melanggar budaya-budaya sekitar dan masih banyak dampak negative lainnya. Jika karakter atau moral dari pemuda desa tersebut sudah rusak maka akan menimbulkan kekhawatiran akan nasib desa kedepannya. Persoalan pemuda zaman sekarang sama halnya orang sakit, pemuda-pemuda desa tersebut telah terjangkit suatu penyakit (kenakalan remaja) yang membahayakan kelangsungan hidup bagi sang individu. Solusinya dari masalah pemuda pemudi desa tersebut adalah mencarikan obat yang dapat menyembuhkan penyakit yang diderita para pemuda desa, karena pemuda sakit di bagian akhlak maka salah satu solusinya adalah memberikan obat yang berupa pembaruan akhlak (pembinaan akhlak) melalui organisasi Remaja Masjid.

Remaja masjid adalah salah satu lembaga pendidikan yang non formal yang bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan dan keimanan kepada Allah Subhana wata’ala. Dalam prakteknya Remaja Masjid merupakan tempat pendidikan agama Islam yang fleksibel, tidak terikat waktu dan tempatnya tidak harus tetap. Remaja Masjid memiliki fungsi yang signifikan dalam mengatasi problematika pemuda/remaja. Terutama problematika karakter di era modern ini yang sangat memprihatinkan (Ahmad, 2014).

Keberadaan Remaja Masjid jangan sampai di pandang sebelah mata, Remaja Masjid ini harus mendapat perhatian dan dukungan dari masyarakat maupun pemerintah. Karena Remaja Masjid menjadi wadah untuk pembinaan karakter atau pembaruan karakter pemuda desa yang sudah terkontaminasi dampak negative budaya luar. Melalui orgasnisasi tersebut pemuda akan di dorong untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berdampak positif, baik yang bersifat keagamaan maupun social-kemasyarakatan. Kekosongan peran orangtua mendidik anaknya dalam bidang keagamaan dapat tersalurkan melalui organisasi Remaja masjid, Karena fakta sekarang kita temui banyak orangtua yang berpendapat bahwa kebahagiaan anaknya adalah materi. Sehingga menyebabkannya sibuk untuk bekerja dari pagi sampai malam yang mengakibatkan waktunya untuk mendidik anak dan bekerja tidak dapat mereka bagi dengan baik.

Beberapa hal yang substansial dari Remaja Masjid adalah menanamkan nilai-nilai dasar islam yang tentunya akan menanggalkan karakter-karekter yang tidak baik pada pemuda. Pembinaan remaja masjid diarahkan untuk mengenal jati diri pemuda sehingga tidak akan terombang ambing dalam menentukan jalan hidupnya. Melalui Remaja masjid pemuda akan dimotivasi dan dibantu untuk menggali potensinya dengan mengadakan kegiatan-kegiatan untuk menampilkan kreativitas pemuda.

Dengan berbagai kesibukan berdampak positif seperti yang dikemukakan diatas maka pembaruan karakter pemuda desa yang sudah mengalami degradasi moral dapat di runtuhkan. Kekhawatiran akan nasib desa kedepannya dapat di minimalisir. Pendidikan non formal yang didapatkan dari Remaja Masjid dapat membuat pemuda menjadi lebih peka terhadap permasalahan bangsa (tidak apatis).

 

Penulis : Sri Wulandari (Mahasiswi)