Perpecahan: Doa Di Media Telah Dikabulkan Tuhan

0
67
views
Sumber gambar : https://aws-dist.brta.in/2015-11/0_0_1422_1421_181a302cbf5b70f5e40c0c771276fe74d1cf7a4a.png

Belakangan ini perdebatan tentang benar dan salah masih marak sekali di media sosial. Benihnya adalah dinistakannya surah Al Maidah oleh gubernur DKI Jakarta beberapa bulan silam.

Perubahan corak diskusi di media sosial dari sebatas mengkritisi kebijakan pemerintah dan mendukung pemerintah serta isu terorisme berubah menjadi perdebatan saling mengkafirkan. Seolah kalau di negara ini hanya lewat menekuni agama tanpa saling mengajak bertindak kebaikan adalah ukuran keimanan maksimal.

Semua kalangan merespon dengan tanggapan yang beragam. Nuansa Negatif sedang menjuarai lini masa. Hal tersebut tak dapat dihalangi oleh pemerintah Indonesia sebagai pemegang kendali atas negara, walau respon yang sedang banyak itu dianggap akan memecah belah kesatuan. Kini mulai nampak kalau perpecahan itu ada dan sedang ramai-ramainya dikampanyekan di media masa.

Negara tidak mampu dan tidak akan mau untuk menghalangi hinggar bingar di media sosial.  Pemerintah Indonesia  yang dipenuhi oleh kalangan pemikir liberal dan konservatif memahami bahwa klas sosial dengan pengetahuan yang beragam pula harus dipertahankan agar kontradiksi tidak menyentuh persoalan pokok -tanah dan upah yang dikuasai borjuasi nasional- yang mana jika itu terjadi akan menganggu stabilitas internal penguasa (pemerintah dan komprador)

Malangnya mereka yang dalam keseharian “mengikat perut” tampil dengan percaya diri menjadi kritikus ulung yang sibuk adu argumen tanpa coba hadir meramaikan dan berkonsultasi dalam  kajian-kajian keagamaan tentang hakikat manusia dan agama yang diyakininya. Umumnya juga berada di klas sosial bawah.

Di media sosial ramai menjadi kritikus ketiga.  Dalam kasus penistaan ahok misalnya.  Ahok menjadi objek utama dan dikritik oleh fundamentalis yang nyaring menyuarakan kekafiran.  Lantas muncul kritikus ketiga mengkritisi para fundamentalis menggunakan 70% teori dari buku tokoh agama dan 30% hadits yang diyakini oleh penulis dari tokoh yang tadi juga.  Malah banyak yang langsung menggunakan asumsi pribadi seperti saya saat menulis ini.

Media sosial menjadi tempat para orang suci dan dari klas sosial yang sama saling mengkafirkan. Melupakan persoalan pokok yang harusnya dibahas bersama karena telah merampas perlahan kesejahteraan dari kehidupannya dan menjauhkan mereka dari sikap hidup istiqomah, malah tak ada niat langsung memburu mutmainnah.

Kini yang dipupuk dalam media sosial hanyalah prasangka buruk dan saling mencari dukungan untuk membenarkan. Saya melihat peran media sosial telah menjadi dogma yang cukup laten dalam mencerahkan pemahaman orang yang masih bersandar pada kebenaran tunggal, juga cukup kuat ledakan atas perkara yang memudaratkan pengetahuan dan keimanan.

Dari kejadian penistaaan tersebut, seolah negara hadir sepenuhnya sebagai representatif atas tegaknya keadilan yang selama ini dirindukan, walau gejala tegaknya hukum juga sangat identik terhadap golongan mana yang sedang diperjuangkan hak-haknya. Di sini basis struktur juga diabaikan dan yang kelihatan kerangka dari antropologi kekuasaan di Indonesia semata.

Antara penistaaan agama dan pengaruh sosial media yang tidak ada filterisasi terhadap arus wacana serta hadirnya negara dalam memediasi aspirasi dari dua kutub yang sedang berkontradiksi telah berhasil melupakan kontradiksi pokok yang dialami masyarakat Indonesia di klas sosial bawah.

Mereka melupakan kalau kemiskinan adalah penyebab kekufuran. Negara berhasil menjerat seorang penista agama pun kita tau kalau kemiskinan tetap terjadi.

Di sinilah identitas telah bias dari substansi dari individu. Negara telah berhasil merubahnya menjadi hal yang semakin abstrak. Media sosial jadi medan adu kelincahan kritik tanpa implementasi. Kesucian dan kekafiran sesorang diukur dari bingkai kalimat yang dituliskan di setiap status pribadinya bukan dari seberapa sering beribadah dan bersedekah.  Malah media sosial bisa menggunakan foto dan caption untuk menjelaskan kebaikan atau keburukan yang sedang dilakukan seseorang.

Hasil dari aksi demonstrasi yang dikomandoi oleh ormas FPI beberapa bulan lalu diindikasikan memecahbelah kesatuan indonesia mulai terjawab. Seperti boomerang yang sedang memburu orang yang melemparnya kini perpecahan tersebut terjadi. Seruan aksi menolak FPI disebarkan secara luas yang menunjukkan adanya identitas lain yang mulai muncul.

FPI kini tidak bersendirian dalam menambah lagi perpecahan.  Muncul gerakan garis bawah (GMB) yang siap “perang” terhadap aksi yang dilakukan FPI. Jika dirunut rentetan yang awalnya hanya saling hujat di media sosial kini ia mulai berubah menjadi adu jotos.

Saya hanya teringat kalimat yang keuatannya cukup mensugesti sayaa. Bahwa kata-kata adalah doa dan doa yang banyak diucapkan oleh rakyat indonesia telahpun diaminkan Tuhan.

 

Penulis : Abdul Salman bin Sulaiman