Nilai Pancasila Yang Terlupakan 

0
73
views

Opini, garis-tengah.com – Ketika Indonesia belum merdeka, beribu pengalaman telah di rasakan oleh para petinggi dan pendiri bangsa ini. Pengalaman di jajah, suka, duka, dan lain sebagainya, bercampur hingga membuat mereka lebih bijaksana.

Berbagai pengalaman itu, menumbuhkan nilai-nilai yang mengkristal dalam diri para pendiri bangsa. Hingga kristalisasi nilai tersebut tertuang dalam bentuk 4 pilar kebangsaan, ketika hendak mendirikan bangsa ini. Salah satu dari 4 pilar tersebut adalah pancasila, yang mengandung 5 poin.

Jika kita kaji lebih mendalam, poin-poin dalam pancasila tidaklah bertentangan dengan ajaran Islam, sebagaimana yang dituduhkan oleh sebagian orang. Sehingga pancasila bisa-bisa saja berdampingan dengan syariat Islam. Namun sebahagian dari masyarakat Indonesia, juga mereka yang mengaku pancasilais (saya Indonesia, saya pancasila), belum menerapkan nilai-nilai pancasila dalam dirinya. Terbukti dengan masih merajalelanya praktik korupsi di tengah-tengah pejabat negara. Seakan-akan pancasila hanya selogan, tanpa peduli apa nilai yang terkandung di dalamnya. Masih menjadi pertanyaan buat kita sebagai bangsa Indonesia, bagaimana merealisasikan nilai Pancasila?

Terlebih dahulu, kita lihat sila pertama: “Ketuhanan yang Maha Esa”, jika kita menerapkan sila pertama ke dalam kehidupan sehari-hari kita, in shaa ALLAH sila-sila berikutnya akan mengikut. Pertanyaan nya, bagaimana merealisasikan sila pertama.

Dengan mengakui ke-Esa-an ALLAH swt. berarti kita harus menyembah-Nya saja, dan tidak boleh mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Selanjutnya, ialah mengikuti dan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Apakah kita telah mengamalkan sila pertama? Tidak! Karena saat ini, hukum-hukum ALLAH dicampakkan. Contoh kecil, menutup aurat bagi wanita muslimah adalah wajib, lantas apakah negara mewajibkan wanita muslimah untuk menutup auratnya? Sekali lagi tidak! Yang diwajibkan hanya memakai helm.

Lantas masih pantaskah anda menyebut diri anda sebagai, saya Indonesia saya pancasila? Memalukan!

Bangsa ini tidak akan lebih baik, kalau tidak membuat dirinya sendiri baik. Sekiranya koruptor masih memiliki nilai pancasila dalam hatinya, maka ia tidak akan korupsi.

Perlu kita ketahui, pancasila adalah sebuah nilai-nilai, sementara petunjuk hidup adalah Al-Qur’an. Oleh karena itu, jika ingin selamat dunia akhirat, harus membaca, mempelajari, menerapkan, dan mengikuti apa yang termaktub dalam kitab petunjuk hidup tersebut.

Bung Karno pernah berkata, “apakah bangsa ini mau jadi bangsa yang besar, atau bangsa kuli?” Bangsa yang besar adalah bangsa yang hanya tunduk dan patuh kepada Yang Maha Besar.

“Kunci dari kemajuan bangsa ialah, harus cerdas.” Kata Amin Rais. Cerdas adalah ketika seseorang berfikir jauh ke depan, berfikir tentang kehidupan setelah mati.

Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata : hadits hasan)

Bangsa yang besar, semuanya tidak lupa dengan jati diri bangsanya. Jati diri manusia adalah sebagai hamba, yang diciptakan hanya untuk beribadah (jenis ibadah itu luas dan beragam).

Mahat Magandi: “bangsa besar adalah bangsa yang berkarakter.” Karakter taqwa adalah sebaik-baik karakter bagi manusia.

Sedikit membahas para penyelenggara negara, seharusnya mereka lah yang memberi contoh kepada kita semua, tentang penerapan nilai-nilai pancasila dalam sendi-sendi kehidupan. Sepakat?

Namun kenyataannya, perkelahian antar anggota dewan yang terhormat, tidur saat rapat, nonton video porno saat rapat, korupsi, dan lain-lain, masih saja di pertontonkan ke hadapan masyarakatnya.

Teori pendidikan mengatakan, jika nilai baik ingin di tanamkan ke anak didik, maka harus melakukan metode modeling, yakni memberikan contoh teladan.

Kita ibaratkan, para petinggi negara adalah guru, dan masyarakat adalah anak didik. Jika kebobrokan masih dipertontonkan, bagaimana kah keadaan kita sebagai anak didik? Wawlahu a’lam

 

Penulis: Ma’arif Amiruddin (Mahasiswa / Aktivis Perubahan)