Negeri PREMAN Rezim PEMALAK Rakyat

0
73
views

Tugas pemerintah adalah mengayomi rakyatnya dari kesengsaraan, bukan malah ia sendiri yang dengan sengaja mengundang permusuhan dan menyengsarakan rakyat. Baru-baru ini dan masih hangat di perbincangkan soal pidato Menteri Polhukam (wiranto) terkait pembubaran ormas Islam yakni Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang katanya dianggap radikal, mengancam keutuhan NKRI dan anti pancasila.

Padahal kalau di perhatikan seluruh tindakan-tindakan HTI itu tak ada yang menandakan makar dan anti pancasila, HTI pun tak melanggar UU no 17 tahun 2013. HTI yang dengan pribadi Islam menyerukan Syariat Islam kaffah karena itu adalah konsekuensi Tauhid, dan lagi kita sama-sama ketahui bahwa pancasila tersebut adalah merupakan nilai-nilai yang terkandung dalam Islam. Jadi sangat aneh apabila dalam tuduhan HTI tersebut anti Pancasila, sementara pancasila itu bagian dari Islam sendiri. Kalau HTI anti pancasila maka berarti HTI ini tidak kaffah dalam menyerukan Islam.

Tetapi jikalau di perhatikan dengan seksama. Justru aktifitasnya HTI dengan kerjanya terus menjaga serangan-serangan pemikiran dari luar, yakni serangan nyata dari kaum Imprealis liberal dalam hal ini untuk menguasai Indonesia, lewat penyerahan kekayaan alam Indonesia oleh pemerintah kepada asing. Kemudian pada kasus FNPB OPM yang dengan terang-terangan menyurati pemerintah bahkan dalam video yang telah di unggah dari papua barat itu dengan adegan mengancam sekaligus membakar bendera merah putih tanda pernyataan mereka bahwa mereka akan pisah dari NKRI. Tetapi pemerintah malah adem ayam saja dan memilih jalan persuasif, bukankah ini adalah tindakan konyol dan memalukan. Justru pada kasus ini, HTI lebih gencar mengurusi ini ketimbang pemerintah. Kemudian pada kasus Investor asing yang merugikan Negara, HTI tak capek-capek memgkritik dan menyerukan agar Sumber daya Negeri ini di kelolah sendiri, menuntut pemerintah agar adil kepada rakyatnya, meminta agar lebih perhatian kepada rakyatnya dibandingkan dengan pihak kapitalis asing, menolak Privitisasi dari perusahaan asing seperti PT. Freeport, Exonmobile, Chevron, Conaco, Medco, Newmont, dan lain-lain, apakah itu salah? Apakah itu makar? Justru yang sangat membingungkan saat ini adalah sikap pemerintah yang tiba-tiba menuding ormas tersebut sebagai ormas anti pancasila dan NKRI yang sejatinya mereka beraktifitas melalui jalur Islam tanpa melanggar UU. Dan gerakannya pun berdampak baik bagi rakyat dan Negara Indonesia ini.

Coba kita lihat pemerintah, kerjanya adalah memberi makan pihak asing, memberi kekuasaan bahkan lebih membela kapitalis asing ketimbang rakyatnya sendiri. Lalu pemerintah tidak segan-segan menindaki dengan kejam kepada masyarakat yang protes terhadap kebijakan pemerintah yang sangat nyata pro asing dan anti rakyat. Bukankah sebenarnya ini (Pemerintah) yang anti Pancasila dan NKRI.

Memang belum terlihat sangat kasar oleh beberapa masyarakat dan kelompok yang dilakukan oleh pihak Imprealis liberal, karena memang belum ada korban kekerasan fisik individual sebagaimana yang telah terjadi pada zaman penjajahan dahulu yang menyengsarakan Rakyat secara Fisik maupun secara perekonomian, Pertambangan, sosial, Kesehatan, politik dan lain-lain.

Kondisi ini sungguh sangatlah memprihatinkan, sebab negara indonesia yang kaya raya ini, baik dari segi SDA maupun SDM yang semestinya mampu bangkit berkembang dan maju. Indonesia dengan luas wilayah teritorial sekitar 5 juta km2, sekitar 1,9 juta km2 berupa daratan. Sedangkan 3,1 juta km2 berupa lautan. Jika di tambah dengan zona Ekonomi eksklusif, maka luas wilayah Indonesia lebih dari 7,5 juta km2. Dan luas laut menjadi 5,8 juta km2. Sumber Daya Alam indonesia berdasarkan dari Indonesia Mining Association. Indonesia menduduki peringkat ke-6 terbesar untuk Negara yang kaya akan sumber daya tambang dengan potensi dan produksi yang meliputi, cadangan batu bara yang meskipun hanya 0,5% tetapi produksinya menempati posisi ke-6 sebagai produsen dengan jumlah produksi mencapai 246 juta ton, peringkat ke-25 Negara dengan potensi minyak terbesar yaitu 4,3 milliar barel potensial, dan peringkat ke-13 Negara dengan cadangan gas alam terbesar dunia sebesar 92,9 Trilliun kubik.
Sumber : www.ima-api.com

Lihatlah semua itu, anugerah Tuhan yang Esa kepada Indonesia ini sangatlah luarbiasa, tetapi kenapa, kenapa Indonesia seperti Negara mati yang terus terjajah oleh Imprealis dan kapitalis Liberal. Ada apa ini?
Kenapa semua demikian semakin memburuk? Dengan kekayaan yang begitu luar boasa banyaknya namun kemiskinan masih tetap meningkat. Pada tahun 2011 menurut Badan Pusat Statistik (BPS). Dengan pengeluaran kurang dari Rp. 230.000 ini mencapai 30 Juta jiwa. Jika di tambah dengan penduduk yang hampir miskin dengan pengeluaran antara Rp. 233.280 jumlahnya meningkat dan berubah menjadi 57 Juta orang atau 24% dari total penduduk Indonesia. Dan bila di tarik dari data Tahun 2009 dari laporan Bank Dunia lewat World Bank Development Indicators, penduduk Indonesia mencapai 50,7% atau separuh dari penduduk Negeri ini masih dalam kategori miskin. Tapi kenapa kemudian pemerintah malah bersikap represif terhadap rakyatnya dan lalai hingga rusak dan layaknya Negeri seperti Negara boneka asing dan aseng.

Ternyata, di internal nya sendiri sungguh sangat rusak namun tetap di tutup-tutupi oleh para budak-budak Rupiah dan Dollar. Betapa tidak, Indonesia yang katanya berdasarkan 4 Pilar ini kemudian di injak-injak sendiri oleh elemen pemerintah lewat perselingkuhannya bersama pihak asing dan mengabaikan rakyatnya sendiri. Kita lihat bagaimana Undang-Undang Agraria yang telah di kuasai oleh asing, Undang-Undang Migas dan Pertambangan pun juga telah di kuasai oleh asing. Sekarang, dimana letak kecintaan pemerintah Indonesia terhadap NKRI dan kesungguhannya terhadap Pancasila yang telah di gagas oleh para pendahulu bangsa ini.

Para pendahulu bangsa ini tidak pernah menginginkan Negara Indonesia itu kembali di kuasai oleh asing, yang di inginkan oleh pendahulu bangsa ini adalah bagaimana agar rakyat Indonesia dapat aman, nyaman, dan tenteram di bawah naungan sistem pemerintahan Indonesia. Bukan malah menjadi mimpi buruk bagi rakyat atas ketidak sampainya amanat Undang-Undang dan Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia ini. Pemerintah membukakan pintu seluas-luasnya kepada pihak asing untuk menguasai segala sumber daya yang ada di Negeri ini, di keruk dan di habiskan serta memperkaya Negeri asing. Namun sayangnya Rakyat di Indonesia sendiri semakin sesak nafasnya, tercekik oleh kebijakan pemerintah hingga mereka mati dalam dusta pejabat ingkar yang tidak bertanggung jawab.

Tanah, air, laut, hutan, pertambangan, Infrastruktur dan di sektor lainnya kini telah menjadi milik asing, semuanya serba di swastakan. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini hanya tinggal bualan semata. Yel-yel kerakyatan pun kini telah berubah menjadi pembodohan, katanya demokrasi dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Namun nyatanya adalah demokrasi itu sebenarnya dari kapitalis oleh kapitalis dan untuk kapitalis saja. Tak ada untuk rakyat. Apa yang di dapat oleh rakyat dari pemerintah? Yang ada adalah semua harga-harga naik dan semakin mencekik leher rakyat. BBM naik, Tarif dasar listrik naik, pajak naik, biaya pendidikan naik, biaya kesehatan serta semua yang berbau harga-harga telah naik drastis serta yang paling menyedihkan utang Negara pun kini telah melonjak tak terkira menjadi US$ 362,3 atau senilai Rp. 4.339,79 Trilliun dengan kurs 13.300. Dan yang akan membayar itu semua adalah rakyat lagi. Lewat mana? Dimana lagi kalau bukan lewat pemalakan atas nama pajak dan sebagainya. Negeri ini lebih tepat di sebut Negara preman, karna taunya cuman habisin isi negara dan malakin rakyat atas nama pajak dan seolah legal karna ada Undang-undang yang telah diatur oleh mereka semua.

Pemerintah pun sungguh betul-betul kejam. Kenapa? Karena apabila ada yang protes terhadap kebijakannya maka ia akan dianggap makar, subversi dan lain sebagainya, padahal kita hanya mengingatkan saja. Dan ketika pemerintah melakukan pelanggaran UU dan menyengsarakan Rakyat, tak ada yang mau meributkan soal tersebut padahal itu menyangkut kebaikan rakyat dan Negara Indonesia ini. Dan lagi tugas dari pemerintah sebenarnya adalah bagaimana mengurus bangsa agar dapat makmur serta aman sentosa di negerinya sendiri, bukan malah mati tersiksa dalam naungan pemerintahan sendiri.

Satu catatan untuk pemerintah bahwa pihak pemerintah selalu represif dan setelah berbuat kesalahan, ia langsung cuci tangan lewat menuding ormas-ormas yang selalu mengkritiki kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat tapi malah pro asing dan mengabaikan rakyat Indonesia. Pemerintah hari ini sesungguhnya telah di kutuk oleh omongannya sendiri karena setiap tindakannya mereka selalu menjual nama-nama para pendahulu yang telah berjuang mati-matian demi rakyat dan mengusir para penjajah imprealis kapitalis liberal. Sementara mereka para pemerintah hari ini berjuang mati-matian demi menyuburkan kapitalis liberal di negeri ini, bukankah itu sangat bertentangan dengan pancasila yang ekonominya adalah ekonomi kerakyatan dan bukan ekonomi kapitalis. Pemerintah telah merusak tatanan berbangsa dan benegara Indonesia hari ini.

Maka sungguh lebih patut di contohi apa yang di serukan oleh para aktivis Hizbut Tahrir yang tawarannya untuk mengganti sistem Demokrasi Liberal ini yang menjadi sumber semua kebusukan dan kerusakan di Negeri ini dengan sistem yang berasal dari Tuhan dan bukan hasil buatan manusia yakni Sistem Khilafah. Dimana di dalamnya semua agama hidup berdampingan damai dan tenteram, bahkan dalam aturannya di wajibkan atas orang Islam untuk membantu umat agama yang lain ketika mengalami kesulitan bahkan di tuntut untuk mati sekalipun demi membantu umat agama lain yang tengah ada dalam kesulitan. Lalu ketakutan apa lagi yang kalian takuti sementara orang Islam sendiri di tuntut untuk mati demi membela saudara non muslim lainnya yang tengah ada dalam masalah. Dan itu baru secuil yang saya sebutkan dari kedamaian lainnya ketika Khilafah itu di Tegakkan belum lagi dari sisi ekonominya yang akan sangat membuat kita tak lagi ingin mengganti sistem Khilafah ini ketika ia di terapkan di Negeri ini. Tak ada lagi kemiskinan, tak ada lagi kedzaliman, tak ada lagi korupsi, dan tak ada lagi pemimpin kotor yang berselingkuh dengan asing dan menginjak-injak rakyatnya lewat kebijakannya yang tak masuk akal itu, dan pokoknya tak ada lagi yang akan melakukan kedzaliman kecuali ia ingin merasakan hukuman yang setimpal.

Ingat!!! Perintah Allah lebih diatas dari segalanya. Bukan perintah asing dan aseng yang jahat itu merampok dan mengeruk semua kekayaan alam indonesia dan setelah itu ia pergi kemudian menyisahkan sampah-sampahnya yang berdampak buruk bagi Rakyat dan NKRI ini.

#SaveHTI
#KamiBersamaHTI

Penulis : Adji Sukman (Mahasiswa Ekonomi Universitas Indonesia Timur Makassar. Dan Selaku Ketua Umum Komunitas Manajemen Akuntansi UIT Makassar. Serta sebagai Aktivis Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kota Makassar.