Mitos Yang Masih Diyakini Mahasiswa

0
25
views

Garis-tengah.com, Opini – Sebagian orang memandang mahasiswa adalah manusia yang super power di segala isu dan perkembangan kehidupan sosial. Anggapan itu hadir atas propaganda media yang memandang aktifitas mahasiswa yang di-identikkan dengan kutu buku, diskusi serta berdebat panjang lebar di berbagai kondisi dan tempat. Perdebatan seperti itu sering kali berlangsung dalam forum-forum formal maupun non formal.

Mahasiswa sangat agresif meskipun pernyataan dan tindakan terkadang heroik. Saking agresifnya, sebagian mahasiswa tidak segan-segan mempertanyakan suatu hal yang sulit dijangkau nalar manusia, misalnya mempertanyakan rutinitas penciptanya. Dulu, di zaman kepala plontos aktifitas mahasiswa saat itu sering dijumpai di taman kampus, perpustakaan, kantin, warung kopi, pinggir jalan, sampai kantor Dewan Perwakilan Rakyat sekalipun. Memang sangat luar biasa gelar yang diberikan sebagai agen of change, sosial kontrol, moral of force.

Itulah mahasiswa yang superior, begitulah kata orang-orang di sekelilingku. Mereka memiliki multi talenta yang diakui oleh seluruh lapisan masyarakat umum. Akan tetapi, sebagian orang memandang kepahlawanan mahasiswa hanya sebatas mitos yang terus diagung-angungkan oleh para pendahulu. Entah apa maksud dari semua itu. Sepengetahuan penulis, mahasiswa Indonesia hanya secuil kecil jika dibanding dengan kapasitas jumlah masyarakat yang ada. Beberapa data menyebutkan, total keseluruhan mahasiswa di Indonesia hanya mencapai 5 juta jiwa saja dari 262 juta jiwa masyarakat tanah air. Sementara pemuda secara umum hanya mencapai 80 juta jiwa saja. Dari jumlah masyarakat tersebut 65% didominasi oleh kaum tani. Rasanya tidak masuk akal ketika perubahan yang signifikan di negeri ini hanya melibatkan golongan masyarakat minor (mahasiswa).

Belum lagi ketika bicara soal kebudayaan mahasiswa yang sama sekali tidak mencerminkan agen of change, sosial kontrol, dan moral of force. Saya yakin mahasiswa yang meyakini teori tersebut lebih memahami maksud dari tulisan ini. Sekali lagi penulis menegaskan bahwa teori tersebut hanyalah pengetahuan berupa mitos yang terus diwariskan kepada mahasiswa lewat diskusi/kajian, buku dan tulisan di media. Pengetahuan yang mengangkat status kemahasiswaan menjadi sombong. Seolah mahasiswa yang manjadi penentu perubahan atas segala persoalan di negeri ini.

Faktanya, jangankan bicara kepastian lapangan kerja, utang negara, sistem politik, kasus century. Menyampaikan protes pungutan liar di ruang perkuliahan tidak mampu dilakukan. Protes hanya sampai dalam hati. Belum lagi menuntut undang-undang pendidikan tinggi (UU PT), hampir satu generasi mahasiswa kuliah mahal (UKT) telah habis. Berbagai front persatuan telah dilakukan, namun belum mendapat hasil yang maksimal. Apa yang perlu dibanggakan status kemahasiswaan?

Merunut sejarah pencabutan Undang-undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) tahun 2010. Tak bisa di pungkiri capaian tersebut tidak terlepas dari keterlibatan golongan masyarakat lainnya. Di sisi lain penulis mengapresiasi lahirnya beberapa Aliansi PECAT UU PT, KAMERAT, dan Aliansi Mahasiswa Makassar (AMM) sebelumnnya. Meski beberapa kali aksi bersama setiap 2 Mei dilakukan di kota Makassar, namun capaian aksi massa tersebut melum mampu membangun komunikasi mahasiswa secara nasional.

Saat ini kembali terbentuk konsolidasi pemuda mahasiswa untuk mengusut kembali kehadiran UU PT bernama Komite Pendidikan Tinggi Nasional (KPTN). Sabtu 30 juli 2018 forum KPTN di Universitas Gajah Mada (UGM) telah dihadiri mahasiswa dan masyarakat dari berbagai wilayah indonesia. Kedepannya KPTN Wilayah Sulawesi juga dapat segera terbentuk. Sepertinya dengan hadirnya konsolidasi nasional tersebut adalah awal penyatuan mahasiswa lintas kampus dengan melibatkan gerakan rakyat lainnya.(*)

 

Penulis: Ilhan