Mengurai Macet Dari Akarnya 

0
40
views

Garis-tengah.com – OPINI, Fenomena kemacetan masih menjadi momok menakutkan bagi warga yang tinggal di kota-kota besar, seakan-akan kemacetan menjadi ‘hantu’ ketika orang ingin berkendara keluar rumah.

Masalah ini merupakan PR besar bagi pemerintah, namun kita pun perlu mengambil bagian, sebagai bentuk tanggung jawab kita bersama.

Bagaimana mungkin kemacetan akan terurai, sementara pertumbuhan kendaraan semakin meroket, dan pertumbuhan jalan belum merangkak dari tempatnya.

Kita bisa melihat, bahwa betapa mudahnya seseorang jika ingin memiliki kendaraan, seakan semuanya di permudah. Terlihat dari DP kendaraan yang kian memudahkan.

Ditambah lagi berbagai lembaga ataupun perusahaan, yang tak jarang memberikan hadiah berupa kendaraan bermotor, yang lagi-lagi kian menjauhkan masyarakat dari transportasi umum.

Belum lagi yang menggunakan kendaraan secara ‘boros’, dalam artian yang seharusnya bisa menggunakan roda dua, malah memilih yang beroda empat (mobil pribadi), hal-hal yang semacam inilah yang kian memperparah kemacetan.

Disisi lain kita juga melihat, hampir setiap orang membutuhkan kendaraan. Wajar saja, kendaraan merupakan solusi bepergian yang paling efektif.

Dibandingkan dengan kendaraan umum, kendaraan pribadi jauh lebih memuaskan. Baik itu dari segi jarak tempuh, kenyamanan, maupun dari segi finansial.

Kita ambil contoh salah satu kota besar di Indonesia, Jakarta misalnya, kota yang terkenal dengan kemacetannya. Menurut riset yang dilakukan tahun 2016, mengenai kota termacet di dunia, Jakarta menempati posisi 17 dunia. Dengan indeks kemacetan mencapai 237,25 dengan rata-rata waktu tempuh di jalan 48,57 menit one way. (Sumber: hipwee.com)

Kemacetan yang dialami warga kota tiap harinya dapat menimbulkan stress, yang ujung-ujunya mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat.

Apalagi pegawai kantoran yang harus bolak-balik dari kantor ke rumah, kurang lebih 5 hari dalam sepekan. Belum lagi tumpukan pekerjaan yang ada di kantor, hal-hal seperti ini makin menambah tingkat stress pegawai kantoran pada khususnya.

Saat ini ibukota telah terkenal dengan sekelumit masalahnya, termasuk masalah kemacetan yang tak kunjung terselesaikan, sampai-sampai terdengar wacana pemindahan ibukota.

Namun disisi lain, daya tarik ibukota masih ada. Ibukota masih menjadi tujuan para perantau, untuk mencoba peruntungan mengais serpihan emas.

Walaupun tak jarang kita temui, para perantau yang mengalami ‘kegagalan’ dalam pergulatannya dengan ibukota. Tak jarang diantara mereka ada yang tinggal di tempat-tempat yang tidak layak, sebut saja rel kereta, kolong jembatan, dan lain sebagainya.

Kembali ke masalah kemacetan, lantas apa yang sebaiknya kita lakukan dalam mengatasi masalah ini? Apakah semuanya di serahkan ke pemerintah?

Masalah ini hampir mirip dengan istilah simalakama, seakan-akan nampak serba salah. Namun yang perlu kita pertanyakan ialah, apa sebenarnya penyebab utama kemacetan?

Jika kita melihat lebih dalam, kemacetan terjadi akibat banyaknya penduduk yang ada pada suatu daerah. Kita kembali mengambil contoh kota Jakarta, mengapa Jakarta bisa semacet itu? Itu karena Jakarta di ‘serang’ oleh ribuan penduduk dari berbagai arah (urbanisasi). Para penduduk yang tinggal di desa, pergi ke kota Jakarta untuk menuntut ilmu (kuliah), ada juga yang menganggap bahwa kehidupan di Jakarta lebih maju daripada di desa, hingga sebagian penduduk desa hijrah ke Jakarta.

Maka wajar saja, kota-kota besar di Indonesia mengalami kemacetan luar biasa. Bagaimana tidak, penduduk-penduduk desa juga ingin merasakan nikmatnya pembangunan, bangku kuliah, pasar modern, transportasi modern dan perkembangan tekhnologi lainnya yang tidak di dapatkan di desa.

Pembangunan yang dilakukan pemerintah, dapat dikatakan tidak merata, hingga masyarakat yang tak tersentuh pembangunan melakukan langkah urbanisasi, agar juga bisa merasakan pembangunan.

Hingga mengakibatkan pembludakan penduduk di daerah kota, dan ujung-ujunya menimbulkan kemacetan parah.

Seandainya saja pemerintah melakukan pembangunan secara merata, maka masyarakat tidak perlu lagi berurbanisasi. Untuk apa berurbanisasi, toh di desa juga ada universitas internasional, di desa juga ada pasar modern dan fasilitas modern lainnya

Dengan meratanya pembangunan, kepadatan penduduk lebih mudah untuk diatasi. Sehingga dengan otomatis, kemacetan akan terminimalisir

Pembangunan yang merata bukan berarti menghilangkan lahan pertanian dan lahan terbuka hijau, namun lebih ke arah pelengkapan fasilitas publik, seperti rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi, jalur transportasi umum, listrik, distribusi air, jaringan internet, tempat pemakaman dan fasilitas-fasilitas umum lainnya, yang tentunya berstandar internasional.

 

Sehingga masyarakat tidak perlu lagi pergi berobat ke kota, kuliah di kota atau mencari kerja di kota. Karena fasilitas umum yang di perlukan, semuanya telah tersedia di desa.

Kita perlu melihat setiap masalah dari akarnya, tidak terkecuali masalah kemacetan, yang akarnya ialah terlalu banyak penduduk yang berkumpul di satu daerah. Sementara di daerah lain terlihat sepi penduduk (tidak merata). Wawlahu a’lam.

 

Ma’arif Amiruddin

Mahasiswa / Aktivis Perubahan