Memperkosa Alam

0
106
views

“MEMPERKOSA ALAM”

Bumi memiliki kulit dan kulit yang memiliki penyakit, salah satu penyakit yang disebut manusia.

– Friedrich Nietzsche Filsuf 1844-1900

 asap-pabrik  

Alarm alam telah berbunyi menjadi pertanda kerusakan bumi. Perubahan cuaca yang ekstrim, pemanasan global yang tak tebendung lagi, mengindikasikan bencana alam sedang menanti. Membicarakan alam tidak akan ketemu ujungnya karena “dari-Nya” kita datang dan “kepada-Nya” kita kembali sehingga tindakan merusak apalagi memusnakan sesuatu yang ada di lingkungan kita adalah “dosa besar”.

earth-emgn-4dead-birdas_thumb1

Bermunculan banyak komunitas pencinta alam di Indonesia diakibatkan sindrom filem 5 cm yang hanya menyuguhkan cerita dengan muatan filantropis semata. Sejatinya tidak ada satu pun efek dari filem tersebut yang memberikan gambaran tentang keadaan alam Indonesia yang sedang “tua renta” dan “sakit-sakitan”. Kita perlu superhero yang hadir dan melakukan penyelamatan dan melawan tindakan manusia yang melakukan “perampokan” secara besar-besaran melalui kekuasaan yang sewenang-wenang.

Sejenak bisa kita melihat ke sebelah bagian timur Indonesia tempat terjadinya “perampokan” kekayaan alam dari “perut bumi Indonesia”. PT. Freeport Indonesia yang sejak tahun 1967 beroperasi sampai sekarang layaknya “tuan rumah di rumah tetangga” namun kita hanya bisa menjadi penonton atas adegan tersebut. Seolah kita tak punya kekuatan untuk mengusir para anasir jahat yang melakukan perampokan terhebat dimana disaksikan oleh seluruh manusia dengan sadar namun tak punya nyali sedikit pun untuk bertanya atau mengkritisi apalagi mengusir dari negeri ini.

Berbagai nama dari pencinta lingkungan hadir lengkap dengan aturan organisasi yang dengan cita-cita mulia; menjaga dan melestarikan alam. Namun sejauh yang saya amati ternyata hanya sedikit yang benar-benar khatam untuk memaknai kata cinta dan lingkungan hidup. Dapat kita lihat bagaimana “korporasi raksasa” yang melakukan perampokan secara nyata di depan mata kita dan para pencinta lingkungan. Mereka dibantu oleh “kaki tangan” di negeri ini dalam melakukan perampokan terbesar dalam sejarah peradaban manusia.

Masih segar dalam ingatan kita pada akhir tahun 2015 dimana “papa minta saham” menjadi headline berita media Indonesia. Hal tersebut menjelaskan secara terang watak dari pimpinan Negara ini yang serakah. Hal tersebut pula yang dipertontonkan kepada kita oleh Setya Novanto sebagai Ketua DPR RI sehingga rakyat secara luas mendesaknya untuk mundur.

Disisi lain yang tak disadari, ketika mencintai alam menjadi trend hidup orang kota untuk melakukan trip yang adventure, maka sekali lagi terdapat peluang pasar yang sangat luas sehingga dalam sekejap saja berkat filem 5 cm dan acara televisi My Trip My Adventure tak satu pun penjuru bumi di nusantara ini yang tidak diterokai oleh manusia; puncak gunung, pesisir pantai, air terjun, goa, yang sebenarnya punya alasan untuk diciptakan bersama kehidupan ini. Sedangkan untuk menjelajahi alam Indonesia diperlukan pula suatu style atau gaya yang identik dengan gaya pencinta alam sungguhan. Hal ini pula dijadikan Peluang pasar oleh brand terkemuka di Indonesia seperti Eiger, Consina, Forester, Rei, The North Face dll, untuk memasarkan di Indonesia yang sedang laris manis.

Para pencinta lingkungan hanya memuaskan hasrat mereka untuk mendekatkan diri dengan alam. Sehingga dengan sederhana menafsirkan alam menurut sudut pandang seperti “kuda yang menggunakan kacamata”. Tanpa disadari hewan yang tinggal di sekitar hutan dan gunung yang menjadi destinasi petualangan pencinta alam tersebut, telah meninggalkan habitat semulanya karena terganggu oleh hiruk pikuk manusia yang sering meramaikan hutan dan gunung di akhir pekan. Perlu perenungan yang mendalam tentang hal tersebut; apakah tindakan kita selama ini tidak akan menganggu ekosistem yang telah diatur sedemikian rupa oleh tuhan pencipta?.

Lingkungan hidup mencakup semua yang ada di sekeliling kita wajiblah dicintai sehingga generasi selanjutnya tidak menghujat, dan menghakimi karena tidak menjaga secara baik alam yang kita nikmati sekarang. Apakah pencinta alam hanya sebatas legitimasi untuk diakui, namun mengabaikan hal terpenting yaitu melawan korporasi yang melakukan eksploitasi alam dan menghancurkan ekosistem serta merampas sumber kehidupan manusia. Sedapat mungkin, kita seharusnya membayangkan bagaimana “wajah” bumi yaitu satu-satunya planet tempat kita tinggal sekarang puluhan tahun kedepan dengan watak manusia yang apatis dan lebih banyak mengutamakan nafsu dan keserakahan.

Menjaga lingkungan tidak hanya menjadi tanggungjawab kelompok pencinta lingkungan saja, melainkan tanggungjawab “semua”, untuk melestarikan kekayaan alam yang diperuntukkan untuk kita. Tugas ringan yang bisa dilakukan mulai saat ini adalah “menekan tombol alarm” agar semua sadar bahwa planet tempal kita tinggal sedang “sakit”.

 

Kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita, kita meminjamnya dari anak-anak kita.

– Amerika Peribahasa asli

 

Penulis : Abdul Salman