Membuka Jeruji Batas (pendidikan ruang-ruang penjara)

0
91
views

Membuka Jeruji Batas

(pendidikan ruang-ruang penjara)

 Manusia terlahir bagai kertas kosong yang siap diukir oleh pena kehidupan yaitu pengaruh gerak gerik mahluk disekitarnya. Diciptakannya akal dalam diri manusia tak lain berguna sebagai pembeda–membedakan antara benar dan salah. Manusia dengan level tertinggi diantara mahluk ciptaanNya, kesempurnaan diri seorang manusia dipoles begitu indah oleh sang Pencipta.

Manusia dan akal adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. fisafat akal terdiri dari  metafisika, logika, etika dan estetika. Salah satu pencapaian kesempuraan akal dapat diukur melalui ilmu dan pengetahuan yang diramu dalam pendidikan manusia. Maka dapat diketahui Pendidikan adalah  memanusiakan  manusia. Pendidikan tak terbatas oleh ruang dan waktu. Pendidikan terbentuk dimana saja,  pendidikan dilakonkan oleh siapa saja. Pendidikan bermakna luas, ibarat  kotak ajaib untuk pelakon. Sang pelakon bisa membuka kotak itu dengan gaya dan ekspresi masing-masing. Pendidikan hanya berarti jika isi kotak ajaib itu tersampaikan sebagai makna positif dalam diri seorang manusia yang berakal.

Interaksi manusia dalam kehidupan adalah jalur menuju pengetahuan untuk mendapatkan ilmu. Dipandang dalam  konteks pendidikan, kebudayan timur sangat menjunjung tinggi nilai-nilai etika tinimbang nilai-nilai logika. Jadi keberhasilan pendidikan seorang manusia dapat diukur melalui nilai etika.

Mencermati lebih dalam dunia pendidikan dan budaya sekitar. Sokolah dan kampus-kampus besar nampak indah dan megah dibumi pertiwi–ruang para intelek berimajinasi dan berkarya untuk bangsa dan negara. Para kaum terdidik dapat membentuk nilai pendidikan dalam dirinya tidak lepas dari pengaruh lingkungan dan kondisi manusia disekitarnya, yaitu dalam konteks budaya dan adat.

Perguruan tinggi adalah arena pendidikan implementasi. Bangku pendidikan diperguruan tinggi sebagai salah satu jawaban dari pertanyaan rakyat,”apa itu pendidikan?”, “apa tujuan pendidikan?” Pendidikan bertujuan mencetak pendidik yang mendidik untuk seluruh pelosok bangsa dan nusantara.

Bahwa pendidikan adalah memanusiakan manusia. Maka pendidikan sebagai panggung teater bagi pelakon untuk berekpresi sesuai karakter, tugas sutradara mengarahkan aktor sesuai karakter dan bakat untuk memerankan lakon sang tokoh.

“Ruang-ruang jeruji betul terbatas, hanya bisa mandi, makan, dan tidur.”Kata narapidana. Demikian pula lingkungan pendidikan beberapa tahun belakangan ini, para pelajar dipenjarakan oleh aturan Perguruan tinggi (PT)–dengan tegas melarang mahasiswa berorganisasi dan menutup ruang ekspresi mahasiswa.

Mahasiswa baru sebagai aktor dan aktris terpilih untuk melakonkan skrip dan narasi sutradara (birokrat kampus). Andai saja narasi dan skrip birokrat kampus sama halnya dengan skrip film layar lebar, maka sangat memungkinkan mengarahkan mahasiswa dalam berlakon sesuai karakter dan sesuai bakat dirinya. Namun sangat jauh dari bayangan dunia film, aturan kampus sangat menutup ruang gerak mahasiswa.

“Menutup ruang gerak mahasiswa baru sebelum memasuki semester tiga, agar mereka tidak terjebak kesibukan berorganisasi yang berdampak buruk bagi kuliahnya.” demikian aturan konyol tersaji tanpa alasan logis.

Kebebasan secara umum dimasukan dalam konsep dari filosofi dan mengenali kondisi di mana individu memiliki kemampuan untuk bertindak sesuai dengan keinginannya. “Dalam sistem pendidikan nasional nomor 20 tahun 2003,  tidak tercantum didalamnya larangan kepada pelajar untuk berorganisasi dalam rentang waktu yang ditentukan. Tapi kenapa perintah larangan berorganisasi bisa tercipta di kampus-kampus besar? Ataukah PT hanya mencintai barisan beberapa pendidik yang berprofesi mirip depcolector? – menjadikan pungutan liar sebagai persyaratan kelulusan.” tandasku. tak adalagi cinta kepada pelajar. bisik hatiku.

Baca Juga :  PKM 2018 Targetkan 10 Ribu Pengunjung

Embrio kebanggaan bangsa (mahasiswa) harus mempunyai ruang untuk membentuk karakter dan jati diri.

Pidato yang dibacakan Franklin D. Roosevelt di Depan Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat pada 6 Januari 1941.  Pidato tersebut menganjurkan agar setiap manusia dijamin negara dalam empat kebebasan, yaitu kebebasan mengeluarkan pendapat, kebebasan beribadah kepada Tuhan dengan cara masing-masing, hak untuk bebas dari kekurangan dan kemiskinan serta kebebasan dari ketakutan.

Terjalinnya silaturrahmi akan berlabu pada kekeluargaan. Idealitas mahasiswa sebagai pelajar dan orang yang mau belajar, maka tidak ada batasan dalam membangun kelompok untuk berkarya dilingkungan pendidikan dengan dasar ilmu dan pengetahuan masing-masing. Karena pada dasarnya manusia adalah mahluk sosial yang saling berhubungan, dengan kata lain tidak ada pemisah antar semua mahluk ciptaanNya.

Analogiku sederhana “ada manusia yang melarang manusia memanusiakan dirinya.” Seseorang tidak dapat terpisahkan dengan orang disekitarnya  untuk berkembang dan atau menjalankan perintah sang pencipta. Sebaliknya, dengan angkuhnya para birokrat kampus menentang perintah agama–melarang mahasiswa berinteraksi dengan mahasiswa lainnya. “Menutup tali silaturrahmi adalah dosa. Titik !!!”.

Pendidikan berjalan seperti air yang mengalir untuk kebutuhan manusia. Jika pendidikan yang berbuah ilmu tak disampaikan dari manusia ke manusia lainnya maka cacatnya pola pikir bangsa adalah jaminannya. Aturan tidak seharusnya membatasi kebaikan dan apalagi mengatur pola pendidikan dengan lakon yang merugikan semua pihak. Seyogyanya umat manusia meningkatkan makna silturrahmi sebagai roh keyakinan dan cinta dalam sari-sari beragama.

Menutup ruang ekpresi mahasiswa bukanlah solusi untuk meningkatkan kualitas akademik perguruan tinggi. Sistem pelarangan atau  membatasi mahasiswa pada level usia pemuda adalah bukan solusi mendidik agar tercipta kualitas dan kuantitas pelajar. Sebaliknya akan menjadi pertentangan dan kerusakan pada diri mereka yang berkelanjutan jika terus ditekan. Usia mahasiswa dalam level pemuda hanya butuh fasilitas untuk berkarya dan reward sebagai wujud pengakuan kepada mereka. Terbukanya ruang ekspresi akan mengatarkan mereka ke jalan berkarya yang akan menhasilkan reward untuk diri mereka dan pengakuan bagi seluruh insan akademis. Pola pikir mereka bukan lagi usia anak dan  remaja yang dididik dengan pola perintah dan larangan. Sekali lagi Usia pemuda (mahasiswa) butuh fasilitas untuk berkarya namun sesekali diarahkan agar terjalin silaturrahmi yang baik.

“Anak-anak dan pemuda-pemuda kita sukar dapat belajar dengan tentram, karena dikejar-kejar oleh ujian-ujian yang sangat keras dalam tuntutan-tuntutannya,”
“Mereka belajar tidak untuk perkembangan hidup kejiwaannya; sebaliknya, mereka belajar untuk dapat nilai-nilai yang tinggi dalam school raportnya atau untuk dapat ijazah.” — Ki Hajar Dewantara.