Memantik Api Kartini, Menyoal Pernikahan di bawah Umur

0
59
views

Memantik Api Kartini, Menyoal Pernikahan di bawah Umur”

Oleh : Rahmi Chaer

 

Indonesia tidak asing lagi dengan peringatan Hari Kartini. Tepat tanggal 21 April didaulat sebagai hari paling berjasa bagi kaum wanita Indonesia. Pasalnya, momentum tersebut telah mengibarkan bendera kebangkitan bagi wanita Indonesia yang kondisinya dulu sangatlah tertinggal oleh kaum laki-laki, dalam segala bentuk aspek kehidupan. Dan sejarah mencatat, peristiwa hikmat ini terhantar atas dasar kaum wanita memperjuangkan persamaan haknya khususnya dalam bidang pendidikan. Kiranya sudah berpuluh tahun momen bersejarah ini terlewati dan selalu menyisakan nilai-nilai penghayatan disetiap peringatannya. Dan tidak dinafikkan, buah manis hasil perjuangan yang dipelopori oleh Raden Ayu Kartini banyak mendarah daging bagi keberlangsungan hidup kaum wanita Indonesia, terkhusus pada hak mendapatkan pendidikan.

Menilik sejarah R.A Kartini

R.A Kartini merupakan wanita yang bergaris keturunan bangsawan dan digelari R.A (Raden Ajeng) untuk dipergunakan sebelum menikah, dan setelah menikah akan diganti dengan R.A (Raden Ayu). Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 yang kemudian hari kelahirannya itu diperingati sebagai “Hari Kartini”. Beliau dalam masa mudanya telah mengenyam pendidikan di belanda selama 12 tahun dan mulai dari situlah, banyak studi perbandingan yang telah dikumpulkan oleh beliau dan mendasari keinginan kuat untuk melakukan  kemajuan perempuan pribumi dalam mendapatkan pendidikan.

Kartini bukan saja sosok yang akademisi dan aktif dalam dunia pendidikan saja, tetapi beliau pun aktif dalam mengadakan korespondensi terhadapa kerabat-kerabatnya di Eropa hingga akhirnya tertarik dengan pola pemikirannya. Kecerdasan Kartini tak dapat terlepas dari cerminan kebiasaannya, membaca banyak buku, majalah dan Koran telah membudaya baginya. Hingga buku-buku seperti Louis Coperus, Van Eden dan buku pemikiran lain yang bernuansa feminis sangat digemarinya.

Ketertarikan beliau akan ilmu pengetahuan itulah yang menghantarkannya memiliki pemikiran luas dibandingkan dengan wanita lain. Ia banyak mengungkapkan kondisi keterbelakangan hak wanita  pribumi dan memaksimalkan perhatiannya terhadap emansipasi wanita dengan banyak menuangkan tulisannya menceritakan penderitaan kaum wanita pribumi dan menyertakan gagasannya untuk merubah pandangan masyarakat  dimedia cetak.

Memantik Api Kartini

Secara garis besar, peringatan “Hari Kartini” dalam esensinya tidak lain adalah tentang agar kaum wanita Indonesia bisa mempuni dalam segala bentuk aspek kehidupan yang tidak hanya stagnan terhadap gejolak urusan rumah tangga saja. Ditopang pendidikan dan keterampilan adalah point plus yang paling penting dalam peringatan ini. Mengingat dorongan besar yang mendasari R.A Kartini dalam menggerilyakan emansipasi wanita pribumi yaitu kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam hak mendapatkan pendidikan yang sama.

Namun, ketika kita membahas zaman ke zaman. Tentu setiap zaman memiliki konsep dan perubahan yang berbeda tetapi tetap dalam integrasi sejarah yang tidak terlepas. Sejarah merupakan titik koordinat antar masa, yaitu masa lalu, masa sekarang ataupun masa akan datang.

Indonesia yang bernotabene memiliki produktivitas reproduksi penduduk yang cukup tinggi tentu tidak terlepas dari kasuistik pernikahan usia dini atau pernikahan dibawah umur. Konvensi Hak Anak (KHA) menyatakan tidak secara jelas mendefinisikan perkawinan dibawah umur, tetapi Anak secara jelas didefinisikan yaitu dibawah umur 18 tahun. Hal ini tertera jelas berdasarkan riset dan data UNICEF terhadap prevalensi Analisis data pernikahan Anak di Indonesia (silahkan unduh : https://www.unicef.org/indonesia/id/Laporan_Perkawinan_Usia_Anak.pdf) menyatakan bahwa presentase perkawinan anak dibawah usia 18 tahun sudah memasuki peringkat terbilang tinggi dan hal ini sangat erat kaitannya dengan faktor perekonomian, faktor pergaulan bebas dan kurang terjamahnya kesadaran masyarakat sehingga praktik-praktik tradisional tidak dapat dihindarkan. Hal ini selaras dengan hasil riset data terakhir dipenghujung tahun 2014, yang juga menyatakan point yang sama.

Sumber-sumber lain yang menunjukkan faktor dan dampak yang sama yakni, pada tahun 2013, Indonesia dinobatkan pada urutan ke 103 menjadi Negara yang memiliki tingkat Pernikahan Usia dini dari total 152 Negara, dan 85% anak Perempuan di Indonesia mengakhiri pendidikan mereka setelah menikah.

Menilik survey yang ada, bisa dipastikan ada wabah potensi terhadap peningkatan pernikahan usia dini yakan terjadi lebih marak lagi. Jika, faktor-faktor yang terjadi tidak dapat diminimalisir dan tertangani dengan serius. Karena tidak hanya keterbelakangan pendidikan yang akan terjadi tetapi resiko angka kematian pasca melahirkan akan meningkat lima kali beresiko lebih besar terhadap praktik pernikahan dibawah umur.

Dengan melihat belbagai keresahan-keresahan yang ada, bisa dipahami telah terjadi degradasi semangat kartini. Terkhusus pada masyarakat pesisir yang bermukim di daerah yang jauh dari kontak sosialisasi, dan sangat jelas tidak terjamah tentang pengetahuan emansipasi dan tidak sampainya sosialisasi aturan jelas penegakan hak-hak terkait penolakan pernikahan dibawah umur, diantaranya Hak untuk hidup bebas dari pelecehan, Hak atas kesehatan, Hak atas pendidikan, Hak untuk dilindungi dari eksploitasi.

Melalui peringatan Hari Kartini semoga menjadi pemantik Api berkobarnya semangat Kartini dahulu yang bisa teradopsi oleh kaum wanita Indonesia masa kini dan akan datang. Melalui kesadaran dan perbaikan dari diri masing-masing dan aktif saling membangun hubungan yang koheren untuk saling mendukung dalam keberlangsungan hidup yang berkualitas. Selain menyelamatkan masa produktifitas kaum wanita dengan kesetaraan hak-haknya. Bisa terdeskripsikan, jika merujuk pada hasil riset UNICEF yang mengkaji tentang dampak pernikahan dibawah umur terhdapa perekonomian Indonesia. Dengan memperkirakan bahwa, jika penundaan perkawinan dibawah umum teratasi dengan bertahap bisa menjelaskan bahwa kelompok anak perempuan 15-19 tahun dapat meningkatkan 1,70% PDB untuk perbaikan perekenomian Negara.

Selamat Hari Kartini, Majulah Perempuan Pertiwi.