Ketenaran Seorang Mahasiswa

0
130
views

Matahari tentunya terik, tapi pekik dan teriak mahasiswa serta lawan serta beberapa kata sebagai wujud resisten mahasiswa baik dengan kekuatan organisasi maupun mahasiswa tak akan kalah dengan panas matahari tadi.

Soalnya teriakan itu bisa memanaskan situasi ruang belajar yang lengkap dengan fasilitas pendingin ruangan (AC). Lalu bagaimana yang ruangan yang cuma bermodalkan kipas angin atau kipas taktis yang siap buang dengan menggunakan tenaga otot. Pastinya bukan panas yang dirasakan tapi terbakar jawabannya mahasiswa di ruangan tersebut.

Namun cukup mengecewakan adalah setelah dipastikan alasan mahasiswa keluar saat orasi politik dimulai bukanlah karena kata dan kalimat (retorika) si orator, melainkan memang karena ruangan tersebut cukup panas dan layak untuk ditinggalkan di jam kuliah saat siang hari.

Tapi tetap saja orator mendapatkan teriakan histeris. ganteng iya, cukup menjadi dambaan para nona-nona kampus. Ditambah bisa berada di tengah lapangan untuk menyampaikan orasi yang cukup semangat namun miskin sikap dan referensi. terdengar hanya makian dan sumpah serapah yang dituju pada pemerintah dan instansi yang setara denganya.

Karena si penulis ini bukanlah orang dengan kegantengan full tapi bisalah dikatakan kalau untuk menjelaskan situasi pendidikan saat ini punya pandangan sedikit lebih banyak dari kawan sebelumnya. Maka disampaikanlah orasi bahwa mahasiswa hanyalah bank teori dan rekening berjalan bagi negara untuk meraup keuntungan maksimal.

Mahasiswa sebagai komoditas seharusnya tidak lagi aneh di telinga mahasiswa. Kampus Negeri rasa swasta itu aneh tapi kampus swasta rasa negeri, mana mungkin. Tetapi hal tersebut menjadi hal yang masih baru bagi mahasiswa.

Pendidikan mahal dan tidak disandarkan pada kebutuhan rakyat adalah kesalahan pemerintah. Negara gagal menghadirkan pendidikan yang murah atau gratis karena telah bersepakat menjadikannya objek dagang sekaligus menjadikannya ruang untuk terus melakukan propaganda bahwa di dunia ini ada negara yang berkuasa dari segi politik, ekonomi, dan militer dan mereka tetap negara yang baik hati karena masih menerima orang lain untuk belajar di negaranya.

Demikian orasinya di awal, lalu dilanjutkan.

Bahwasanya pendidikan indonesia telah banyak mengarahkan rakyatnya untuk mengabdikan pengetahuannya  demi mengeruk kekayaan alam indonesia. Lalu membiarkan limbah dari proses pengrusakan alam tersebut dinikmati rakyat indonesia.

Kita sejak di bangku kuliah haruslah terang dalam memimilih masa depan kita sendiri. berpihak kepada rakyat tertindas atau tunduk pada pemerintah yang berperan sebagai boneka dari negara asing tersebut.

Pilihan itu tidaklah sulit jika mempelajari sejarah kemerdekaan negara ini. Tegas  saya katakan bahwa kita semua harus berpihak pada rakyat tertindas dan mengambil bagian di dalamnya walau pilihan itu berat tapi setidaknya, akan membuka pandangan kita dengan terang benderang kalau masa depan kita semua di lapangan kerja, pendidikan, dan politik ada di tangan kita dan wajib pula diabdikan bagi negara ini dan rakyat luas.

Orasinya cukup membara. Namun situasi sangat hening. Kurang tanggapan. Kurang peminat.

Bekal megaphone tadi bisa juga diukur tentang kehadiran borjuasi kecil yang cukup selektif atas orang-orang yang menyampaikan pikirannya di mimbar bebas. Semua didasarkan sudut pandang kekinian dan kedekatan. Popularitas cukup menghabiskan energi jika ingin diraih.

Untung saja, karena bukan itu target perjuangan.

Penulis: Abdul Salman. Bekas Mahasiswa IKIP Ujung Pandang.