Kampung Adat Di Tengah Modernisasi

0
74
views

Garis-tengah.com – Himpunan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa (HIPPMA) Beroanging diberikan mandat untuk menyelenggarakan kegiatan sakral yang setiap tahunnya di gelar oleh Masyarakat Desa Beroanging Kecamatan Bangkala Barat Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan pada hari minggu tanggal 07 Mei 2017 yang terletak di Saukang rumah adat Beroanging (tanah yang menjadi awal lahirnya perkampungan beroanging dan kini telah menjadi sebuah desa) dan tetap eksis, bahkan sangat terkenal di kabupaten Jeneponto ini. Acara ini di hadiri oleh pejabat-pejabat daerah, wakil bupati, dinas pariwisata, bahkan Mega KDI dan Putri Duta Pariwisata Jeneponto serta ribuan orang yang datang dari berbagai macam daerah dan kabupaten diantaranya kabupaten Takalar, Jeneponto, Gowa, Bantaeng dan Makassar.

Kegiatan ini telah ada sejak dulu dan terus di lestarikan oleh generasi penerus Desa Beroanging hingga sampai pada tanggal 07 Mei 2017 di gelarlah Pesta Adat/Pesta Panen desa Beroanging yang bertempat di rumah adat Beroanging. Rangkaian acara sakral yang di lestarikan dan menjadi icon di desa tersebut ini di mulai dari penyambutan kepala daerah Jeneponto yang di wakili oleh wakilnya sendiri yakni H. Mulyadi Mustamu, SH. Karaeng Tinggi dengan Aru Tu Barania (Sumpah Setia) dari salah satu pemuda Beroanging, kemudian dilanjut dengan Tari Pa’dupa.

Setelah tamu undangan telah berada ditengah acara, dimulailah dengan membuka acara oleh Master Of Ceremony (MC) ; Abdul Rahman (Mahasiswa Unismuh Makassar) dan Umriani Aisyah (Mahasiswi STAI YAPNAS Jeneponto). Lalu di sambung dengan Tari pakarena, Tari Panen, Padekko, pasalonreng, pakacaping, pagambusu’, paganrang, pencak silat, lompat lingkar api, palanja, tapak suci, pa’batte jangang, dan di tutup dengan pa’lumba jarang (pacuan kuda).

Kegiatan Pesta Adat/Pesta Panen ini sungguh sangat luar biasa sekali karena kegiatan seperti ini tidak semua desa dapat melakukannya, apalagi dengan warisan budaya yang masih sangat hijau ini, itu pun sangat jarang kita dapatkan yang statusnya masih sangat natural. Apabila kita menyaksikan langsung, maka kita seolah ada ditengah-tengah masyarakat dahulu yang menjunjung tinggi “siri’ na pacce na (budaya malu dan persudaraan nya)” serta tradisi yang sangat kokoh ditengah arus modernisasi.

Baca Juga :  Memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia; DDV Gelar Semarak Kemerdekaan

“Kegiatan pesta adat/pesta panen ini sudah turun-temurun dari nenek moyang terdahulu dan sudah membudaya di masyarakat Desa Beroanging dan selalu dilaksanakan setelah masyarakat Beroanging selesai memanen hasil buminya. Kegiatan ini pun dijadikan sebuah moment yang mewadahi untuk bertemunya seluruh penduduk Desa Beroanging tepatnya di Rumah Adat Beroanging. Kemudian daripada itu respon yang kami dapati selaku pemerintah desa setempat Kepala Desa Beroanging dari masyarakat, sangat bahagia menyambut moment ini karena dijadikan sebagai ajang komunikasi dan pemersatu harapan kedepannya untuk beroanging yang lebih baik”. Tegas kepala desa beroanging (Nurdin Nur,SH) yang baru saja menjabat selama dua tahun setelah pensiun dari TNI. Dan menurut hasil wawancara, beliau bercita-cita untuk memajukan Desa Beroanging sejak beliau masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Beliau menyampaikan pesannya yang mewakili Ketua Adat Beroanging (Daeng Nyampo) yang sudah menjabat selama puluhan tahun.

“Bahwa desa ini akan terus maju, sekalipun terpencil jauh kepelosok tepat di lereng gunung, namun keberadaannya sangat dikenali oleh masyarakat dan pejabat-pejabat jeneponto. Bahkan di tahun 2016 awal jabatannya telah memperlihatkan kerja nyatanya lewat terealisasinya wisata Permandian Alam di beroanging yang sangat ramai di datangi oleh pengunjung, bahkan ketika itu permandian tersebut belum diresmikan akan tetapi sudah sangat menarik perhatian para wisatawan, sehingga inilah yang menjadi keyakinan kami semakin kuat untuk memajukan desa kecil ini sebagaimana teguhnya keyakinan kami terhadap Adat-Istiadat kami yang sangat sakral ini”. Tegas pak Nurdin Nur, SH (kepala desa beroanging).

 

 

Citizen Reporter: Adji Sukman