Hima Plus FIP UNM Gelar Aksi Persoalkan Mahasiswa Gondrong

0
435
views

Garis-tengah.com – Himpunan Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah (Hima Plus) menggelar aksi demonstrasi di kampus FIP UNM (20/11). Aksi yang diikuti oleh 30 massa aksi ini dipicu karena tindakan salah seorang dosen yang tidak mengizinkan mahasiswa berambut panjang (gonrong) mengikuti proses perkuliahan. Selain itu, biaya wisuda sebesar Rp. 625.000 yang tidak jelas peruntukannya dan dibebankan kepada semua mahasiswa yang akan diwisuda termasuk angkatan 2013 yang sudah dikenakan UKT pun menjadi pemicu lahirnya gerakan.

Dalam Orasinya, M.Irfan selaku ketua umum Hima Plus mengatakan “Pelarangan berambut gonrong sungguh tidak jelas landasannya. Padahal dalam aturan kemahasiswaan, tidak ada satupun aturan yang melarang mahasiswa berambut gonrong. Selain itu, biaya wisuda yang dibebankan kepada mahasiswa terkhusus angkatan 2013 juga sangat menyalahi aturan. Bukan tanpa alasan, dalam aturan telas dijelaskan bahwa komponen yang dibiayai UKT juga sudah termaksud biaya wisuda.”

Aksi yang dimulai dijalan Tamalate Raya pada pukul 10.00 wita bergeser ke depan Ruang Dekanat FIP untuk menemui pimpinan Fakultas.

Dr. Abdul Saman M.Si, Kons. selaku WD 1 FIP UNM yang menemui massa aksi menjelaskan terkait tuntutan yang dilayangkan padanya. “Terkait rambut gonrong, itu sudah tidak ada tawar menawar lagi. Kalau tidak mau potong, silahkan pertahankan sampai kalian DO. Atau, silahkan cari kampus lain kalau tidak mau mengukuti aturan disini.”

“Kalau soal biaya wisuda, Rp. 625.000 itu sudah termasuk biaya lainnya seperti Ramah tamah, toga, foto copy ijazah dan transkrip nilai, dan biaya wisuda. Dan untuk yang UKT jika memang ada aturan bahwa yang UKT tidak dibeban biaya wisuda, maka uangnya akan dikembalikan.” Tambahnya.

Febriadi selaku jendral lapangan menegaskan dalam akhir aksi bahwa jika tidak ada kejelasan terkait permasalahan ini maka mereka akan melakukan aksi yang lebih besar direktorat.

“Sebagai seorang anak, kami seperti diusir oleh orang tua kami dirumah sendiri. Tidak sepantasnya orang yang mengaku sebagai orang tua bertutur seperti itu.” Ujar Febriadi yang kecewa mendengarkan perkataan pimpinan Fakultas.(*)

(*)Al Iqbal