HIDUPKU MAYAT HIDUP

0
45
views

Kampus  adalah tempat dimana aku mengawali karir sebagai mayat hidup. Di tempat ini pula aku mengenal sesamaku. Ketimpangan sosial dikemas sedemikian rupa hingga tak nampak lagi. Aku menyaksikan ribuan makhluk berjuluk manusia saling bertubrukan dalam satu wadah. Mereka tidak pernah sadar atas apa yang terjadi di antara mereka. Tidak ada toleransi hidup, Sampah mereka saling bentrok di dunia maya. Mereka buang hajat seenak jidat di media sosial dengan cara menumpahkan seluruh keluh kesah dan kegalauan tak berguna.


Pertanyaan kecil yang muncul kemudian “apa sih pentingnya mahasiswa?” Mungkin kata mahasiswa terdengar keren di telinga  sebagian orang, tetapi pentingkah kita membuang recehan hanya untuk menyandang status mahasiswa sementara kembara ini tak ada bedanya dengan mempersilahkan pihak birokrat mengubah meja makan kita jadi jamban mereka.

Sangat disayangkan ketika aku seharusnya menjadi cerdas dan peka melihat masa depan yang semakin absurd, tetapi masih saja riang menikmati segudang tipuan dengan berbagai macam menu siap saji. Aku masih saja diam sement
ara orang lain (birokrat) terus bertengger di pundak orang tua, memeras keringat dan menjadikan mereka budak untuk menebus harga menu.

Aku lebih senang berkelana di jurang waktu bernama sosial media ketimbang harus membuka mata dan melihat peristiwa di sekitar ku. Ber-onani tentang kesenangan semu yang tak mungkin ku dapatkan, menutup mata laksana orang paling merdeka dan terus larut bersama mayat hidup lainnya. Ya, itulah kegemaran ku!

Belajar hal-hal objektif tidak penting lagi bagiku. Berdiskusi tentang perjuangan membuatku muak dan ingin muntah seketika, buku adalah sampah di mata ku yang akan segera membuat kepala ku puyeng bukan kepalang. Melihat manusia bodoh di sekitarku membuat hidup ini terasa aneh. Dan lagi-lagi dunia maya nan-elok yang aku pilih untuk menghibur diri dan tenggelam dalam rayuan si tante Facebook, gadis Path, nona Instagram dan berbagai jenis makhluk maya lainnya.

Tidak jarang aku melihat sekelompok orang aneh melakukan hal menjijikkan lalu terus berteriak soal upah buruh, perampasan tanah, komersialisasi pendidikan dan sejuta kalimat hingga urat leher mereka putus. Aku tidak habis pikir, apa yang mereka inginkan. Mereka adalah makhluk bodoh yang akan tersesat ketika menginjakkan kaki di dunia penuh fantasi, dimana segala bentuk kesenangan ada di dalamnya. Mereka lebih memilih berkeluh dengan larangan aktivitas malam, berontak hanya karena edaran kertas tentang tingginya tarif biaya penelitian, menuntut selembar kain bernama almamater, menggugat ketika dilarang berorganisasi dan menganggap study tour adalah bentuk pembodohan.

Apa susahnya menurut saja? Persetan dengan mereka. Berbaring menatap layar android dan melangkah ke gerbang maya lebih menyenangkan dan membuat hidup ini tenteram dibanding harus berurusan dengan cecunguk yang hanya memeras otak dan berteriak hingga kerongkongan retak.

Sesal, Jenuh, Lelah…

Kata itu nyaris tidak pernah Ociss kenal di kehidupannya dulu. Ya, Ociss, itulah nama ku. Kawan-kawan ku lebih mengenal akusebagai Bang “O”. Kisah di atas adalah kehidupan masa lalu Bang “O”. segala bentuk kebodohan terus ku amalkan secara istiqomah dalam wadah yang nyaris enggan kenal pada keadilan, dialah KAMPUS!

Kini waktu memberiku kesempatan dan merubah pola pandagku berbalik 180 derajat. Aku mulai mengerti bahwa teriakan mereka bukan sekedar celoteh tanpa bernilai. Mereka berteriak bukan tanpa tujuan. Mereka berontak! Itu karena keadilan tidak lagi mereka temui di penjuru kampus ini. Mereka sadar bahwa birokrat telah menginjak-injak mereka. Berbagai menu yang menggiurkan tidak lebih dari sekedar omong kosong. Senyum ramah birokrat adalah bingkisan indah wajah buruk mereka.

Lantas bagaimana dunia indah ku? Dunia maya yang dulu tampak indah di mata ku ternyata tak lebih dari dunia fantasi dengan hamparan bangkai busuk yang terus datang menimpuk otak ku. Aroma kotoran makhluk tak berotak menusuk dalam hingga paru-paru ku. Namun semua itu tetap indah bagi ku di masa lalu.

Akhir dari semua itu, barulah aku menyadari bahwa waktu luang yang ku buang sia-sia dan segala bentuk tindakan tak bermakna tempo hari adalah bukti konkrit bahwa hidup ku selama itu tak lebih dari mayat hidup dan terus berkeliaran dalam dunia aneh sosial media.

Penulis : Bang “O”