Gerakan Mahasiswa dan Olok-olok Linimasa

0
54
views

Jika ada olok-olok tentang kelompok mahasiswa hipokrit yang senang unjuk kekuatan dengan cara borongan, tentu saja atas nama pembelaan sebagaimana jargon warisan yang sudah lapuk beberapa zaman. Atau sindiran tentang kakak-kakak penggertak yang berani pada adik-adik maba tapi takut pada pejabat kampus dan dosen yang tiran. Atau juga tentang kelompok mahasiswa yang berani di jalanan, tapi nol besar dalam adu pemikiran. Atau tentang kelompok mahasiswa yang siap berjuang hingga darah penghabisan, tapi takut kelaparan.

Yang celaka, saya tergolong kelompok dalam olok-olokan di atas. Kabar baiknya “saya tidak sendirian”.

Tentu saja olok-olok tersebut dirangkum dari berbagai tanggapan mengenai demonstrasi 121 yang ramai dibicarakan beberapa hari belakangan, bersaing dengan acara debat calon Gubernur DKI yang menenggelamkan nyaris seluruh isu krusial dan seharusnya lebih layak dikupas lebih tajam.

Lalu olok-olok tersebut tentu akan mendapat lawan tandingnya, tentu saja dari kelompok yang tersasar olok-olokan. Linimasa tentu akan penuh perdebatan dengan angka partisipasi melebihi pemilu sudah-sudah.

Ada yang berargumentasi  “begitulah gerakan mahasiswa, merusak hari ini, tapi menyelamatkan hari esok” dan tentu ini untuk membenarkan tindakan pengrusakan fasilitas publik oleh massa aksi yang memang sedang di luar kendali para pemimpin demonstrasi.

Lalu komentar yang lain “halah, tidak usah kritik kalau tidak ikut terlibat. Begini lebih baik daripada diam saja” ini komentar dari mereka yang kehabisan argumentasi dan tidak mengharapkan serangan balik.

Atau komentar dengan bunyi “kalian tidak paham, beginilah memang seharusnya mahasiswa” adalah komentar yang ingin menegaskan romantisme pemikiran heroik tentang gerakan mahasiswa. Pemikiran romantis yang menegasi peran rakyat di luar mahasiswa dalam capaian perubahan. Pemikiran romantis yang dirawat lewat pengaderan bergaya dogmatis dan feodal. Sehingga jangan heran jika menemukan ada demonstrasi yang jika dikritik atau diumpati oleh pengguna jalan, akan lebih memilih adu tinju sebagai penjelasan ketimbang memberi pemahaman kepada pemberi kritik atau pengumpatnya.

Lalu begitulah kemudian gerakan mahasiswa, bukannya mendapat posisi tawar dan penghormatan sebagai pahlawan seperti yang diharapkan, sebaliknya malah berakhir jadi bahan olok-olokan dari rakyat yang ingin dibelanya dan bahan tertawaan penguasa yang hendak diteriakinya.

***

Pangkal dari seluruh olok-olok linimasa terhadap gerakan mahasiswa diantaranya adalah arogansi massa aksi yang seringkali lebih menonjol ketimbang publikasi hasil analisis wacana. Model demonstrasi yang miskin imajinasi, dan cenderung mengharapkan perubahan dari ketakutan penguasa terhadap dampak merugikan yang akan berlanjut. Model demonstrasi seperti ini tentu akan sangat lemah jika digunakan dalam kondisi terkini.

Perkaranya adalah, model demonstrasi demikian sepenuhnya bertumpu pada kondisi massa aksi yang mengikuti, dan kondisi individu yang suka-tidak suka akan terlibat mengamati. Gustave Le Bon, seorang ilmuwan sosialdalam bukunya, Crowd: A Study of Popular Mind, yang membahas bagaimana pikiran kolektif mengambil alih pikiran dan rasa kepemilikan individu. Le Bon menjelaskan tentang bagaimana pikiran kolektif dapat mengambil  alih kesadaran individu. Dia mengamati bagaimana seorang individu di tengah orang banyak bisa kehilangan kontrol diri dan menjadi boneka ceroboh. Individu, yang dikendalikan oleh pemimpin dalam lingkaran penonton, akan mampu melakukan tindakan apapun, apakah itu heroik atau merusak.

Dalam konteks kerumunan atau kelompok, semua perasaan tanggung jawab sosial dan rasa takut untuk melakukan tindakan terlarang dihapus secara tidak sadar oleh pikiran. Ini menjelaskan kondisi dalam kelompok, dimana emosi tertentu seperti keberanian, dan kepengecutan menjadi lebih mudah tertularkan.

Bertahun-tahun kemudian, teori Le Bon ini diuji kembali oleh kelompok kutu buku Psikologi sosial yang salah satunya bernama Festinger. Lalu diuji kembali bertahun-tahun setelahnya, oleh salah satu kutu buku penggila studi sosial paling terkenal (versi penulis) “Philip Zimbardo” yang kemudian menjelaskan kembali sebab dikuasainya pikiran individu oleh kolektif, salah satunya adalah anonimitas. Kunci dari semua hal pelik yang tak terkendali, rupanya adalah potensi untuk menjadi anonim.

***

Bisa dipastikan, jika sedikit basa-basi teori di atas. Bukan berangkat dari kondisi masyarakat Indonesia. Pasalnya motif penguat paling dominan yang mendasari tindakan kebanyakan masyarakat Indonesia, adalah hasrat untuk menjadi tenar. Baik di dunia nyata, maupun dunia maya. Hal ini kemudian membuat teori Zimbardo tentang anonimitas, menjadi sedikit sulit untuk diterima.

Diukur lewat linimasa misalnya. Aktifnya komentar dan celaan mengenai gerakan mahasiswa yang katanya kurang kerjaan, selain dilakukan karena pelaku sendiri sama kurang kerjaannya, juga dilakukan untuk menarik perhatian masyarakat linimasa. Semakin banyak yang merespon suatu komentar, semakin tenarlah juga si pembuat komentar. Belum lagi beberapa alasan demonstrasi yang seringkali tidak masuk akal, seperti misalnya menaikkan posisi tawar belaka. Dan itu semua, dilakukan dalam kondisi identitas yang sebenarnya, dengan foto profil selfie pemilik akun aslinya. Bukan kondisi anonim seperti Zimbardo teorikan. Meski tak dapat disangkal, ada juga beberapa yang anonim belaka.

Atau berkaca pada dunia nyata, potensi kekerasan dalam aksi demonstrasi besar. Bukan sepenuhnya dipengaruhi oleh provokasi atau kehandalan agitator demonstrasinya. Melainkan, karena kebanyakan peserta demonstrasi yang terlibat, adalah sekelompok anak muda yang sur-plus energi karena kurang kegiatan akibat kampus tidak mewadahi minatnya dengan benar (tidak diwadahi fasilitasnya, terlalu dibatasi jam berkumpulnya). Tentu saja, kebijakan kampus yang terlalu serius dan kurang bercanda. Seperti menaikkan uang kuliah semahalnya, demi proyek ambisius kampus kelas dunia (entah ini nyambungnya dimana, tapi paksakan saja). Sehingga jangan heran, jika beberapa aksi demonstrasi, makin kesini, justru menjadi opsi rekreasi bagi kelompok massa bersumbu pendek, yang hanya ingin menyalurkan emosi.

Namun pada satu titik, teori paling klasik yang diusul Le Bon mengenai penguasaan pikiran kolektif terhadap individu, ada benarnya  untuk ukuran orang Indonesia. Ini menjelaskan, mengapa kebanyakan kita, ketimbang membicarakan hal yang benar-benar penting untuk dibicarakan. Kita lebih memilih untuk membicarakan, hal-hal yang sedang ramai orang bicarakan “Telolet, dan olok-olok terhadap gerakan mahasiswa hanyalah salah satunya”.

Jika terus-terusan begitu, jangan harap kita akan tiba pada pembicaraan mengenai “mengapa sesuatu bisa terjadi, dan bagaimana mengatasinya”. Atau sebagai contoh lain, adalah demonstrasi itu sendiri, untuk gaya mobilisasi misalnya, beberapa aksi demonstrasi masih mengandalkan tekanan hirarki senior-junior, bukan model penyadaran massa aksi jauh-jauh hari yang memang butuh kesabaran tinggi. Sehingga jangan heran lagi, jika mendapati aksi demonstrasi yang didominasi oleh kelompok massa yang hanya tahu membeo pada kalimat agitator “bilang hidup, dan bilang betul”.

Lalu, mari menanyakan pada diri sendiri, sebelum mengikuti saran para menteri untuk menanam cabai sendiri. Cukup pertanyaan sederhana, seperti  “apakah tanah di kota yang ramai terpapar racun, akan menghasilkan cabai layak konsumsi ?” atau selemah-lemahnya nalar “kenapa harga cabai bisa naik ?” lalu jika semua cabai ditanam sendiri “apakah para petani cabai akan menjual lahannya untuk dibanguni pabrik semen ?”.

Mari menanam Cabai.

Salam usus dua belas jari.

Makassar, 2017

 

Penulis* Shany Kasysyaf, adalah mahasiswa sejak 2012 dan belum menggarap skripsi.