Cerpen : Jikalau Aku Sudah Tua

0
53
views

Banyak yang menghujatnya entah kenapa, terutama bagi pelajar yang lelah diberi tugas-tugas yang kurang menyenangkan, tidak ilmiah dan menambah beban mereka, alangkah indahnya hari libur bagi mereka sebaliknya alangkah buruknya hari yang dijadikan pertanda untuk memulai segala aktivitas akademik. Sementara klas buruh tetap memulainya dengan tenaga yang kurang prima akibat waktu istirahat yang boleh dikata sedikit, kaum tani kembali ke kebun atau sawah milik si tuan tanah, sementara keadaan miskin kota tidak kalah menderitanya. Dan benar saja kutemui satus bbm kawanku dengan tulisan I hate monday. Tentu saja status itu tidak menggugurkan cerahnya hariku yang kumulai dari awal datangnya subuh, sedikit santai memang hidupku karena aku tergolong borcil (borjuasi kecil). Akan tetapi berbanding terbalik dengan suasana hati pemuda sarjana berbadan ceking tinggi kulitnya kuning langsat hidung mancung dan rambut poni yang menutupi jidatnya yang lebar dengan bentuk wajah yang lonjong. Boleh dikata cukup lumayan tampangnya, cukuplah untuk jadi seorang plaboy yang menggoda adik-adik mahasiswi tapi tetap saja tidak ditekuninya. Tono memang lumayan populer dikalangan mahasiswa dan mahasiswi apalagi dijajaran dosen, terhitung dia mantan seorang aktivis kampus yang gemar demonstrasi menentang kebijakan kampus yang merugikan mahasiswa. Murung sekali wajahnya hari ini, kutegurpun dia masih melamun. Entah bayangan gelap apa yang menutupi pikiran dan keceriannya hari ini, seperti bukan dia yang biasanya. Apalagi Tono memang tergolong pemuda yang punya semangat tinggi dalam menghadapi segala tantangan, kukenal dia sebagai fungsianaris lembaga yang militan memperjuangkan keadilan sewaktu mahasiswa. Hanya saja Tono termasuk orang dengan kepribadian yang sering cemas. “Problem apalagi no ?” Sahutku sambil menepuk pundaknya, tapi tak dapat jawaban. “Wanita mana lagi yang membuatmu begitu galaunya bro ? Ceritalah padaku siapa tahu aku bisa memberimu bantuan atau paling sedikit bisa kuberikan sedikit saran.” “Problem keluarga bro terlalu privasi untuk kubagi dan diskusikan”, akhirnya dia menjawab pertanyaanku dan suaranya yang parau seakan menegaskan betapa besarnya problem itu. “Aku harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarga, tapi dimana aku harus bekerja? Kita sama-sama tahukan kondisi negara kita sekarang (setengah jajahan, setengah feodal),” pertanyaan dan pernyataannya yang bertubi-tubi ia lontarkan itu membuatku terdiam sejenak. “Orang tua dan kakakku menuntutku sukses sementara ukuran sukses yang mereka pahami adalah seberapa banyak uangku, harus punya mobil serta rumah mewah. ” “Kau kan bisa memberinya penjelasan agar mereka tenang,” sanggahku. “Ah kau belum tahu saja berapa kali aku menjelaskannya malah direspon dengan pertanyaan untuk apa kubiayai pendidikanmu mahal-mahal kalau bukan untuk menjadikanmu kaya?” aku kembali tercengang dengan kata-kata Tono ini. “Lantas kau mau bagaimana?” Tanyaku, walaupun agak lama terdiam kemudian jawabannya lebih mengagetkanku. “Aku jadi politisi saja jawabnya, orang yang pandai mendapatkan simpati massa sepertiku mungkin pantas untuk profesi ini atau pengusaha saja yang jelasnya bisa mendapatkan uang untuk membantu keluarga dan jikalau nanti aku sudah tua bisa santai lalu memiliki anak yang punya kejelasan nasib karena jabatanku, setidaknya tidak seperti nasibku sekarang ini.” “Lalu apa bedanya kau dengan orang-orang yang kau kritisi waktu jadi mahasiswa,” sanggahku. “Ah kau tidak tahu keadaanku saja, sulit mengecawakan orang tua yang membesarkan dan merawatmu sejak kecil bro, sulit kau pahami kondisiku saat ini jika kau tidak berada dalam posisiku ini,” jawabnya lalu pergi tanpa berpamitan, menengok kearahkupun tidak kemudian hilang dalam kejauhan. Kata-katanya barusan seakan membakar habis kamus kata yang ada dalam otakku. Dalam hatiku timbul pertanyaan: “Kalau dia tahu bahwa pemahaman tentang sukses yang diukur dari harta benda dan jabatan itu keliru, lalu kenapa dia harus mengalah ?” Mengalah untuk mengerjakan apa yang selama ini dia sebut salah. “Ataukah tono yang berada dalam kondisi demikian bisa mengalah karena ketakutan mendapat murka dari kelurganya ?” Pemahaman mereka jelas berbeda dengan apa yang dipahami Tono tapi budaya leluhur dan agama menganjurkan untuk membahagiakan mereka yang lebih tua dan tidak menentangnya. “Mungkinkah Tono hanya membuat alasan saja ?” Dia hanya meniru pendahulunya yang memperjuangkan keadilan hanya saat berstatus mahasiswa. Hidup yang dipahami kebanyakan orang adalah bagaimana bisa makan enak dan hidup nyaman, keduanya hanya bisa dibeli dengan uang. Bukan keadilan yang dijunjung tinggi tapi uang, sebab itulah yang miskin akan semakin dihinakan dan ditindas. Kisah Tono bukanlah satu-satunya, jauh sebelum Tono ada banyak orang sepertinya yang berubah karena yang dinamakan kesuksesan itu, dan kutemui kabar mereka jadi pejabat korup yang membuat regulasi agar memuluskan perusahaan asing untuk menindas bangsanya. Kutemui kabar mereka jadi pengusaha yang dengan keji merampas tanah rakyat.

Baca Juga :  Onvestasi Bantu Petani dan Peternak di Wajo Jalankan Usahanya

Salam Demokratik