Berdagang Tidak Mesti Di Toko (cerpen)

0
81
views

Berdagang Tidak Mesti Di Toko

Oleh

ImmaIrma

Musim hujan telah bertandang, rasa malaspun lebih dominan menghambur ke jiwa manusia.  Namuku Fitria, umur terbilang masih muda, 21 tahun. Sebagai pendatang di Kota Daeng yang sebelumnya tinggal bersama orang tua, apa-apa orang tua dan sekarang dihadapkan dengan kehidupan serba sendiri, makan, mencuci dan lain-lainnya. Awalnya aku ingin kembali ke kampung tinggal bersama orang tua, kuliah di sana, di sini terlalu kejam  yang keseharianku dulu dimanja tiba-tiba harus mengandalkan diri sendiri. Aku kuliah di salah satu Universitas Swasta di Makassar mengambil jurusan pendidikan.

Pondok Madinah, tempat aku yang baru dengan suasana baru. Orang tuaku sengaja mencarikan kos yang khusus putri biar aman katanya, namanya juga orang tua pasti ingin yang terbaik untuk  anaknya. Semseter awal  menjadi mahasiswa sedikit agak rumit bukan persoalan keuangan, orang tuaku terbilang cukup mampu untuk kehidupanku.

Aku terkendala melayani diriku sendiri, yang harus masak sendiri, belanja sendiri dan nyuci sendiri, semua ini terasa berat. Setiap malam aku mengeluh ke orang tuaku, mereka hanya bilang “ kalau tidak bisa masak nak, makanan siap saji di sana kan banyak” ke dua orang tuaku yang sedari dulu selalu memanjakanku dengan materi dan akhirnya sebagai wanita yang kodratnya pintar memasak aku ketinggalan.

Aku tidak terlalu suka makanan siap saji, aku selalu berusaha harus bisa masak. Aku iri dengan wanita di samping kamarku, namanya Hanifa, tubuh semampai, bola mata yang bulat, alis tebal dan pastinya jago masak.  Dengan keramahannya tidak butuh waktu lama aku akrab dengan Hanifa. Berawal dari Hanifa kejenuhanku perlahan mulai hilang, Hanifa selalu mengajariku memasak dengan menu sederhana” tempe goreng dengan sambel terasi, tumis kangkung, menu sederhana tapi mengugah selera. Pondok Madinah yang terdiri dari 10 kamar  tidak menyulitkan aku untuk akrab dengan mereka.  Orang tuakupun senang melihat perubahanku yang kini jarang mengeluh, mereka selalu mengirimkan stok indomie yang lumayan banyak, telur beberapa rak dan kebutuhan yang lainnya. Aku merasa beruntung tidak pernah kekurangan apapun.

Memasuki semester 3, akupun sudah lihai memasak ditambah sering belajar dari google. Semua berawal dari Hanifa yang kini menjadi sahabatku. Malam ini hujan bertandang lebih awal,  rasa kantuk dan lapar saling berkejar-kejaran, kebiasaan anak- anak di kos datang mengetuk pintuku.

   “ Fitria” aku mengenal suara itu pasti Rani, suaran cemperengnya selalu membuat aku senyum

“ Iya, ada  apa Ran?

“ Aku boleh beli mie sama telurnya ya? Aku lapar, hujan tak kunjung reda

“ Ambil aja dikulkas, tidak usah dibeli” kataku dengan senyuman manis

Hampir beberapa tahun aku tinggal di pondok Madinah, kebiasan anak-anak di kos selalu membeli Mie ke aku, katanya aku tidak pernah kehabisan stok mie dan telur.  Setelah ba’ada magrib kami selalu berkumpul di depan TV, di kosan kami disediakan TV umum, banyak saja hal yang mereka lakukan ketika sudah berkumpul, ada yang asik main Hp sendiri, ada yang lagi curhat, ada yang nonton sambil makan dan kali ini menunya indomi telur.

“ Fit, aku hutang mie sama telurnya satu yaa? Tadi tidak sempat beri tahu, berlalu dengan menikmati semangkuk indomienya.

“ Fit, kamu jualan indomi saja, kan lumayan dari pada anak-anak  kebiasaan pinjam” suara sumbang dari belakang, Hanifa yang sedari tadi asyik main hp. “ iya Fit, jualan aja biar anak-anak juga tidak susah lagi keluar malam hanya beli indomie asalkan jangan untung banyak” sambungnya anak-anak yang lain dengan ketawa lepas.

Suatu malam, aku tidak bisa tidur alhasil usulan aka-anak waktu itu menjadi pikiran utamaku,” kenapa tidak menjual saja” ada betulnya juga kenapa saya tidak mulai dari hal-hal kecil dengan berjualan indomie di kosan sendiri, toh hasilnya bisa nambah-nambah uang jajan. Mengharap dari orang tua tidak mungkin selamanya mereka bisa selalu ada,  belajar bisnis tidak menunggu harus modal besar asalkan niat.  Akupun sepakat untuk memulai berjualan indomie, telur dikosan meskipun untungnya terbilang sedikit tapi ada kesenangan tersendiri. Berawal dari berjualan indomie sama teman- teman kos akupun mulai menjajalkan pisang nuget yang kupelajari dari Hanifa dan beberapa resep dari google.

Berdagan diruang lingkup tempat tinggal sendiri, sekarang aku beranikan menjajalkan pisang nugetku ke kampus, awalnya keteman kelas, dan perlahan banyak diminati teman-teman yang lain.  Hanifa pernah sekali bertanya kepadaku “ kamu tidak malu Fit, menjajalkan daganganmu ke kampus? Kalau di kosan kan Cuma kita sama anak-anak yang lain tahu, lah ini satu kampus tahu dan kamu tergolong orang berada”  aku hanya tersenyum mendengar Hanifa yang lagi seriusnya mengingatkanku sebagai sahabat. “ Awalnya akupun ragu, tetapi aku berfikir sampai kapan mengandalakn orang tua, peluang tidak datang dua kali, kamu yang mengajarkan aku memasak dan sekarang menjadi hobiku tersendiri, kenapa tidak hobi yang bisa menghasilkan aku tekuni” kataku sembari menghitung pemasukanku hari ini, Hanifapun mulai mengerti dan ikut serta membantuku.  Selain sibuk kuliah akupun sekarang sibuk menyiapkan daganganku dibantu sahabatku Hanifa. Teman kampus menamai daganganku pisang nuget Madinah, ada kesenangan tersendiri kalau yang aku jajalkan ternyata menyenangkan buat orang banyak.

Pisang Nuget Madinah, kini mulai merambah dikampusku yang terbilang cukup besar, dan aku ditawari dari pihak kampus untuk membuka lapak diarea kampus.  Rasa Syukur  yang tiada henti-hentinya atas nikmat Tuhan,  berawal dari bermodalkan indomie telur sekarag aku bisa membayar SPP sendiri dan mempunyai pemasukan sendiri.