BANGKIT DI HARI IBU

0
64
views

22 Desember merupakan momentum peringatan hari ibu di Indonesia. Penetapan tanggal ini ditujukan untuk memberikan penghargaan kepada seorang ibu yang telah merelakan segalanya untuk buah hati. Pada tanggal ini pula banyak kalangan yang berbondong-bondong memeriahkan dan memberikan ucapan selamat, terima kasih ataupun luapan ekspresi lainnya kepada ibu. Semua kebaikan ibu terumgkap di hari itu.

Sebelum lebih jauh, mari kita simak sejarah hari ibu di dunia.

Sebagian negara Eropa dan timur tengah, hari ibu diperingati pada bulan Maret. Hal itu dilakukan atas dasar kepercayaan mereka memuja Dewi Rhea yang merupakan ibu dari para dewa sekaligus istri dari dewa Kronus menurut sejarah Yunani kuno. Sementara di Amerika Serikat dan berbagai negara lain seperti Australia, Kanada, Belanda, Malaysia dan Hongkong, peringatan hari ibu dilakukan pada minggu ke-2 bulan Mei. Bulan itu dipilih atas dasar perjuangan seorang ibu aktivis sosial (Julia Ward Howe) yang mencanangkan pentingnya persatuan perempuan dalam menghentikan perang saudara di Amerika pada tahun 1870. Di Amerika Serikat, mereka menyambut hari ibu sejak 1872 lewat upaya Julia Ward Howe yang juga menulis puisi paling populer di kalangan warga Amerika saat itu “The Battle Hymn of The Republic (TBHoTR)”.

Pada tahun 1907 Anna Jarvis dari Philadelphia memulai kampanye untuk peringatan hari ibu. Namun pada 1908 proposal peringatan hari ibu ditolak pada kongres Amerika Serikat. Ia kemudian berhasil menyebarkan pengaruh hingga ke west Virginia untuk meramaikan dan merayakan hari ibu di tahun ke-dua kematian ibunya, tepatnya minggu ke-2 bulan Mei dan sejak saat itu Philadelphia rutin memperingati hari ibu pada tiap tahunnya. Hal ini tentunya dilalui dengan upaya rumit dan waktu yang panjang. Alhasil pada tahun 1911 hampir seluruh warga amerika menyambut perayaan hari ibu. Sementara pada tahun 1914, presiden Woodrow Wilson menetapkan hari ibu sebagai hari cuti nasional dan harus dirayakan pada minggu ke-2 bulan Mei. Hal serupa dilakukan pula oleh negara-negara Eropa, seperti Denmark, Finlandia, Italia, Turki dan Belgia.

Jauh sebelum itu, tepatnya pada tahun 1600, masyarakat inggris merayakan hari ini sebagai “Mothering Sunday”.  Saat itu juga mayoritas masyarakat fakir di Inggris yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga diberikan waktu libur menjelang akhir pekan ke-empat untuk pulang mengunjungi ibu dan membawa mothering cake sebagai simbol perayaan hari tersebut.

Di Indonesia sendiri, peringatan hari ibu dilakukan pada tanggal 22 Desember. Tanggal ini ditetapkan sebagai hari ibu nasional oleh Presiden Soekarno melalui Dekret Presiden No 316 tahun 1953, tepatnya pada ulang tahun ke-25 kongres perempuan indonesia sejak 1928.

Lantas apa makna hari ibu?

Sejatinya, hari ibu ditetapkan sebagai upaya memberikan dorongan kepada kaum perempuan untuk terus meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Perempuan diharapkan mampu memberikan kontribusi yang massif untuk mendorong perjuangan dan membebaskan diri dari berbagai bentuk penindasan.

Namun kini makna hari ibu telah mengalami pergeseran yang cukup vital. Peringatan hari ibu bukan lagi dimanfaatkan untuk membangkitkan semangat kaum perempuan, tidak lagi digunakan untuk upaya penyadaran dalam setiap perjuangan dan sudah berganti rupa yang tak lagi indah. 22 Desember kini diwarnai dengan berbagai kegiatan seremonial semata. Sekedar memotong kue, lomba memasak antar RT, serta lomba kecantikan dan membuat kebaya.

2016 ini, peringatan hari ibu diwarnai dengan tumpukan foto selfie bersama ibu di sosial media dan mencantumkan ucapan selamat ataupun kalimat yang seolah-olah dialah orang paling cinta pada ibu. Sosok ibu sontak menjadi viral sosial media yang menggeser rating “bambangnya Alo dan om telolet om”. Entah ini gila atau apa. Ibu menjadi pahlawan dalam waktu sehari dan itu hanya di sosial media.

Dalam kehidupan sehari-hari tak jarang dari kita yang lupa peran ibu dan (maaf) sms banking dari ibu itu lebih indah dari apa yang ibu lakukan untuk kita. Ibu tak pernah terlintas dalam pikiran disaat kita senang bersama kawan. Hanya sedikit dari kita yang siap menyelipkan kalimat doa untuk kesehatan mereka. Ucapan terima kasih dianggap setara dengan jasa ibu. Kucuran keringat ibu tak akan mungkin terbalas dengan ucapan terima kasihku, tetesan air mata di sela-sela doa ibu adalah hutang yang tak mungkin terselesaikan dengan ucapan selamatku di  hari ibu.

Tujuan dari tulisan ini bukan kritik, tetapi bermaksud memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada ibu yang selalu rela berjuang demi buah hati dan tak pernah kenal pamrih.

 Ayo bangkit kaum perempuan!

Sepanjang sejarah, penindasan terhadap kaum perempuan sangat massif terjadi. Mulai dari kekerasan fisik hingga kekerasan seksual. Tercatat bahwa angka kematian ibu (AKI) di Indonesia adalah yang terbesar di Asia Tenggara. Majalah Kartini mencatat dari 100.000 angka kelahiran terdapat 359 ibu meningal. Angka ini tentunya menjadi bukti bahwa upaya Indonesia dalam menurunkan AKI tahun 2015 sebesar 102 dari setiap 100.000 kelahiran masih jauh dari berhasil.

Sementara data dari catatan tahunan KOMNAS PEREMPUAN tahun 2016 menunjukkan terdapat 6.500 kasus kekerasan seksual terhadap kaum perempuan sepanjang tahun 2015, baik di ranah personal/rumah tangga maupun di ranah komunitas. Kekerasan seksual pada anak yang terinstitusi pernikahan dini saat ini masih terjadi di kalangan masyarakat. Data ini dikeluarkan oleh BPS yang mencatat 1.000 anak perempuan di Indonesia menikah setiap harinya.

Kasus ini menjadi titik terang bagi kaum perempuan untuk terus menggelorakan perjuangan dan membangkitkan kesadaran atas sesama kaum perempuan. Berbagai tindak kekerasan ini tentu akan menjadi bahan evaluasi kita baik itu dikalangan laki-laki, terlebih bagi kalangan perempuan. Bagi anda calon ibu rumah tangga, mari kita galang kekuatan dan massifkan persatuan demi mencapai kebebasan perempuan dari segala bentuk diskriminasi. Bangunlah dari tidur nyenyak mu dan raihlah mimpi bebasmu!

Panjang umur perjuangan!

Perempuan bangkit melawan penindasan!

Jayalah perjuangan perempuan!

 

Penulis: Bang “O”