Aliansi Perjuangan Rakyat (APR) Memperingati Hari Tani Nasional 2017

0
219
views
Aliansi Perjuangan Rakyat (APR) saat menggelar aksi peringatan Hari Tani 2017

Makassar, Garis-tengah.com – Sejumlah Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Perjuangan Rakyat (APR) melakukan aksi demonstrasi dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional, di pertigaan jalan Pettarani – Hertasning, Makassar, Senin (25/10).

Dalam aksi tersebut, mereka menyoroti situasi kaum tani dan rakyat Indonesia yang semakin mengalami kemerosotan hidup yang disebabkan massifnya perampasan tanah dan monopoli tanah yang dilakukan oleh perusahaan asing dan perusahaan besar dalam negeri.

Tidak hanya itu, massa aksi juga menyoroti program reforma agraria pemerintahan Jokowi-Jk yang saat ini dijalankan. Mereka menilai bahwa program tersebut bukan saja tidak sanggup menyelesaikan berbagai masalah agraria, tapi program ini juga hanya akan menambah kemelaratan kaum tani.

Menurut Ilhan, ketua FMN cabang makassar bahwa program reforma agraria yang dijalankan pemerintahan Jokowi-Jk belum sesuai dengan amanat UU Pokok Agraria No.5 Tahun 1960.

“Saat ini kondisi semakin mengalami kemelaratan hidup di bawah rezim Jokowi-Jk, faktanya program reforma agraria yang dijalankan bukan reforma agraria sejati yang diidam-idamkan rakyat seperti amanat UU Pokok Agraria No.5 Tahun 1960”, ucapnya.

“Selain memperingati Hari Tani Nasional, Aksi APR ini sebagai ajang mengkampanyekan berbagai permasalahan yang dialami oleh kaum tani, buruh, pemuda mahasiswa, kaum miskin perkotaaan yang terus mengalami perampasan hak-hak demokratisnya serta tindak kriminalisasi oleh aparatur negara dibawah rezim Jokowi-Jk. Masalah dalam dunia pendidikan menjadi hal pokok yang diangkat khususnya kasus Drop Out (DO) 3 mahasiswa UIM, 8 mahasiswa UPRI, dan 1 masisw UKI Paulus Makassar. Kasus DO sepihak oleh kampus tersebut merupakan bentuk nyata terjadinya kriris demokrasi khususnya dalam kampus”, tambah Ilhan.

Aksi yang berlangsung damai tersebut dilakukan di 2 titik dengan pengawalan pihak kepolisian. Titik pertama di bawah flyover dan kemudian melakukan long march ke titik kedua di pertigaan jalan Pettarani – Hertasning.

Adapun tuntutan massa aksi yang dibacakan sebelum membubarkan diri, yaitu:

  1. Menolak RAPS Palsu Jokowi-Jk dan laksanakan reforma agraria sejati
  2. Stop perampasan tanah dan kriminalisasi terhadap kaum tani
  3. Cabut SK DO 3 mahasiswa UIM, 1 Mahasiswa UKIP dan 8 Mahasiswa UPRI
  4. Menuntut PT. Lonsum untuk segera mengembalikan seluruh tanah rakyat (tanah ulayat) berdasarkan hasil temuan Tim verifikasi Pemkab Bulukumba
  5. Menuntut Pemkab Bulukumba tidak memperpanjang kontrak Hak Guna Usaha (HGU) PT. Lonsum yang merugikan masyarakat suku adat kajang selama puluhan tahun
  6. Hentikan segala bentuk reklamasi pantai yang merugikan rakyat
  7. Cabut UU Dikti No.12 Tahun 2012 dan hapuskan sistem pembayaran UKT
  8. Wujudkan pendidikan yang ilmiah, demokratis, dan mengabdi pada rakyat
  9. Jalankan mekanisme pembagian beasiswa yang berkeadilan
  10. Berikan akses tanah terhadap masyarakat miskin perkotaan
  11. Berikan akses jalan kepada masyarakat kampung Berua yang ditutup oleh Brimob
  12. Cabut PP.78 tentang pengupahan dan Perppu No.2 tahun 2017 tentang ormas.

Setelah aksi yang berlangsung damai tersebut selesai, massa kemudian membubarkan diri dengan tertib. Adapun organisasi yang tergabung dalam aksi tersebut, yaitu FMN Makassar, SMI Makassar, BEM FT UKIP, BEM FE UKIP dan BEM FT UIM.

 

Penulis : Wahyudi