Puisi: Sebelum Matahari Menakutkan

0
35
views

Sebelum matahari menakutkan seperti kalimat yang belum kudengarkan.
Seumpama matamu yang menyakitkan tatap segala perih yang kau titipkan.
Pagi hari dan kopi yang belum sempat rebah dalam cangkir kesepian.
Seperti duka yang belum kutuntaskan semalam kelam.
Kalimat mati bertandang ke rumah saat belum ada tanda-tanda fajar tepat berdiri di depan pintu kepergian.
Aku kira siapa, sepagi ini datang mengetuk minggu, berpakaian rapih dan bermuka rapuh.
Mata masih mengantuk di tubuh setengah mabuk, sementara ia mengetuk seperti orang ketakutan.
Tergesa-gesa napasnya tak beraturan.
Berbicara dengan bahasa yang tidak kupahami dan makna yang belum pernah kutemui.
Kulihat mawar masih mekar di halaman depan.
Embunnya masih setia sebagai pasang namun bukan sebagai sepasang, apalagi setia sebagai lengan.
Semoga tak ada matahari, kataku.
Aku tahu betul perasaan-perasaan mawar itu.
Ia selalu berpura menawan agar sekawanan embun tetap setia sebagai sayang di pagi yang bukan kesementaraan.
Aku butuh kopi pagi ini.
Sekedar menemani mata melawan pagi dan kegelisahan yang akan kutemui di hadapan minggu yang mungkin membelenggu.

Angin membelai dingin pori-pori kekosongan.
Derap hening kesedihan jatuh di seberang jauh.
Dan sepasang tubuh mati dipisah masa lalu.
Juga mata dan kesedihan yang tumpah karena keengganan yang datang berpuluh-puluh.
Kubiarkan kesedihan masuk menyambangi ingatan dalam silam.
Aku tak akan protes kali ini.
Silakan bermain di ingatanku tentang apa saja yang belum sempat kau inginkan dalam aku.
Atau kubiarkan kau menyakitiku dengan cara yang kau suka.
Juga dengan goresan luka-luka baru yang belum kau lukai dalam aku.
Ini akhir bulan, katamu.
Kau memang rajin datang lebih pagi dari pagi.
Lebih dingin dari dingin.
Lebih mematikan dari mati yang hampir kutemui sebentar lagi.
Kau lalu mendikteku sebagai kesalahan yang belum sempat disampaikan orang-orang media.
Atau buku-buku yang belum sempat kubaca.
Atau mulut-mulut yang belum sempat berbicara dengan duka dan ketidaksukaan tentang aku.
Kau lukai aku sekali lagi.
Kukira matahari yang menakutkan.
Kukira matamu yang mendebarkan.
Nyatanya kata-katamulah yang paling mengerikan.

(Badung-Bali, 28 Januari 2018)