2016 WAFAT; TABE’ KANDA JANGAN KURANG AJAR!

0
97
views

Setiap kehidupan pasti memiliki sejarah masing-masing, entah suka, duka atau datar-datar saja. Semua itu tergantung bagaimana kalian meraciknya. Berbicara tentang kenangan tentunya kita masih ingat pada tahun yang baru saja wafat 2 hari lalu, 2016. Ya, 2016 sudah tumbang dan kini digantikan oleh tahun yang baru mengawali karir sebagai 2017. Ada banyak kesan Ociss lalui sepanjang 2016. Mulai dari skripsi yang tak kunjung kelar hingga praktek perbudakan yang masih membudaya di kalangan mahasiswa dengan jargon “Kanda-Dinda”. Sampai 2016 berakhir, ternyata kanda masih sah-sah saja semena-mena dan dinda masih harus saja jadi budak oleh kalangan orang yang menganggap dirinya paling berhak menguasai segala sisi juniornya.

Sebelum kita melangkah lebih jauh, kalian harus ketahui, tulisan ini Ociss rangkai ditengah suasana bising kota Makassar. Tepatnya ketika pagi tiba menggantikan subuh dan mentari mulai mengumbar senyumnya menyambut Senin yang padat serta riuh oleh aktivitas masyarakat Kota Daeng. Udara pagi hari nan segar mulai tersusupi oleh polusi kendaraan. Alunan lagu Silampukau dan Dialog Dini Hari menemani duduk ku bersama secangkir kopi. Tak lupa pula gulungan tembakau berlabel surya  ikut nimbrung bersama suasana khas tanah Karaeng.

Cerita ini berangkat dari pengalaman si Ociss di belantara kampus. Ociss adalah mahasiswa berlabel sesepuh yang tak kunjung menyudahi statusnya karena lemah syahwat pada skripsi. Menurutnya skripsi adalah kumpulan kertas yang tak menarik minat dan sama sekali tidak menyenangkan. Sebab itulah dia masih bertahan dengan kemelut persoalan kampus dan tentunya bau pesing yang tak juga terselesaikan sejak zaman Jepang masih bercokol di Indonesia.

Sampai saatnya 2016 sudah menemukan titel almarhum/almarhumah (saya sendiri belum tau 2016 itu laki-laki atau perempuan) masalah klasik di dunia kampus belum beres juga. Sama halnya dengan toilet yang masih bangga mengumbar bau pesing, masalah perbudakan di kampus juga tidak ada habisnya. Senior adalah orang yang memiliki kendali penuh terhadap perbudakan di kalangan mahasiswa. Secara tidak langsung, semua orang yang memiliki watak senior selalu menghendaki juniornya untuk jadi seperti apa yang mereka mau, bukan atas dasar problem pokok yang dialami juniornya.

Di kampus si Ociss budaya ini belum kelar dan masih dibudayakan dengan bangga. Suatu ketika dikala Ociss masih muda (mahasiswa baru), dia mulai diperkenalkan dengan undang-undang senioritas. Aturan ini berisi 2 pasal, beginilah bunyinya :

  1. Senior adalah orang yang selalu berada pada posisi benar.
  2. Jika senior salah, maka kembali ke pasal 1.

Menurut Ociss aturan inilah yang menjadi pokok persoalan perbudakan mahasiswa di era modern yang dilakukan oleh mahasiswa sendiri. Aturan ini yang menimbulkan banyak persoalan dikalangan senior-junior hingga akhirnya muncul senjang diantara keduanya. Bukankah persoalan kita sebagai mahasiswa itu sama? Lantas mengapa kanda belum faham juga?

Konon aturan ini sudah tidak ada, tetapi sampai 2016 berakhir praktek undang-undang ini masih berjalan mulus dan terkendali. Ada juga yang berdalih, ketika senior berkata kasar itu berarti senior masih sayang dan ingin membangun agar adik-adik bisa jadi lebih baik. Tapi satu hal yang menjadi pertanyaan, apakah seniorku sudah baik? Jawabannya sudah pasti kontroversi. Ada yang jawab ya, ada yang jawab tidak sampai pada membaik-baikkan dan menjelek-jelekkan.

Baca Juga :  Perdana, Mahasiswa KKN PPL XVII UNM SMKN Campalagian Mengadakan PENSI

Kalau boleh jujur, inilah problem pokok dibalik banyaknya seteru yang muncul di antara keduanya. Baik itu saat PMB dimula maupun pada saat pengkaderan. Banyak kasus pula yang disembunyikan agar terlihat baik-baik saja. Anehnya, sikap super hero senior muncul pada saat LDKM (pengkaderan) tiba. Dihari itu senior hadir bagai orang yang paling ditakuti sejagad raya, sampai kura-kurapun bisa berlari bagai pelari maraton nasional karena ketakutan. Kekuasaan senior melebihi kekafiran Fir’aun ketika pos telah dibuat (katanya untuk evaluasi) sehingga kanda bisa berbuat semaunya. Mabuk-mabukan, bentak kiri-kanan sampai dengan main tangan itu sah-sah saja. Tetapi di mana kakanda ketika kami harus berhadapan dengan birokrasi? Kenapa super hero kami tak muncul lagi? Kelelahan, sibuk atau belum sadar dari sisa mabuk semalam? Entahlah, mungkin dia mulai lelah.

Inilah realita kampus. Di kampus Ociss tolak ukur sopan santun adalah kata tabe’ (permisi) dengan membungkukkan badan serta menundukkan pandangan. Ada juga yang bilang bahwa menyanggah itu sama dengan melawan, berkomentar itu tidak ber-Etika, menuntut itu arogan dan memiliki hak serta kewajiban sama dengan senior sebagai mahasiswa itu kurang ajar. Di situ letak kejanggalannya.

Mari kita cek…

Selama ini semua mahasiswa baru dituntut untuk patuh pada senior sementara senior menolak patuh pada mahasiswa baru. Maksudnya begini, ketika kita jadi mahasiswa baru atau junior maka kita diharuskan untuk selalu menghargai, menghormati, mematuhi dan memahami perasaan senior. Sementara di sisi lain, senior menolak untuk ditegur dan dinasehati oleh mahasiswa baru atau juniornya. Di lain kasus, ketika kita menjabat sebagai pengurus himpunan maka senior akan memberikan fatwa atas nama nasehat yang mesti ditaati, ketika pengurus mentok tak ada ide senior hanya bilang “itu masa kalian untuk berproses”, dan ketika masalah menyapa, sudah barang tentu pengurus jadi objek rugi.

Kalian boleh mengambil kesimpulan sendiri soal tulisan ini. Kalian berhak berpendapat siapakah yang kurang ajar? Jika tolak ukur sopan santun, etika, arogan dan kurang ajar itu seperti di atas maka selayaknya itu berlaku untuk semua pihak, tentunya para birokrat juga.

Agar tak dianggap kuran ajar, Ociss mau minta maaf pada kanda jika dengan menulis tulisan ini adalah sikap kurang ajar. Ociss tak bermaksud menyudutkan tetapi hanya menyimpulkan realita lewat tulisan ini. Tentunya tulisan ini ditujukan untuk semua kalangan mahasiswa dan khususnya untuk “KANDA” tercinta. Bukankah saling menghargai itu jauh lebih indah ketimbang harus saling menodai.

Sebagai penutup, Ocis ingin berpendapat

“sebagai mahasiswa, kita punya hak dan kewajiban yang sama. Maka silahkan lakukanlah apa yang ingin anda lakukan, silahkan berkarya sesuka hati, bebaslah sebebas mungkin selagi kau tak merugikan orang lain”

Kita tentunya ketahui bersama bahwa 2016 telah tiada dan tentu kita ingin budaya terbelakang serta saling merugikan itu hilang. Olehnya itu Ociss mau bilang :

Tabe’ kanda Jangan Kurang Ajar!

Makassar, 02 Januari 2017

Widyawan Setiadi